Ramai-ramai Konsumsi Makanan Organik!

Tingginya bahaya polusi dan hal-hal yang berbau kimiawi, mengundang sebagian orang untuk mulai menyadari pola hidup sehat. Salah satunya, dengan mengonsumsi makanan organik, yakni bahan makanan yang bebas kimia. Beberapa artis pun mengikuti tren positif makanan organik.

Saat mengandung tiga tahun lalu, Melly gemar mengonsumsi sayuran organik. Kebetulan, di depan rumahnya di kawasan Ciburial, Puncak, terbentang kebun sayur dan buah organik milik tetangga. Sayangnya, Melly keguguran. Ia kembali ke Jakarta namun tidak meninggalkan hobinya mengonsumsi sayur dan buah organik.

Apalagi, ia sudah merasakan khasiatnya. “Dulu aku sering kena batuk-pilek. Tapi, percaya enggak percaya, selama mengonsumsi segala macam bahan makanan yang organik, aku merasa lebih sehat. Rasanya juga lebih fresh, enak di perut, dan kulit jadi bagus,” ungkap Melly.

Tak cuma mengonsumsi, Melly akhirnya mulai berbisnis sayuran dan buah organik. Sistemnya masih delivery. “Kalau ada yang pesan, saya ambil dari perkebunan Permata Hati di Puncak.” Jadilah tiap dua kali seminggu Melly turun ke kebun, memilih sendiri sayur dan buah. “Setelah dua tahun dijalani, sekarang saya punya banyak konsumen.”

Meningkatnya permintaan, membuat Melly memutuskan membuat kios mungil ukuran 3 X 3 m persegi di bilangan Kemang Timur. Namanya, Organic Vegetables. Di dalam bangunan berdinding bata itu, terdapat bermacam-macam bahan organik. Mulai dari sayuran, kacang-kacangan, buah, dan umbi-umbian. Belakangan, Melly juga menjual beras dan beras merah organik yang diambil dari Yogya. “Sedangkan ayam dan telur organik, didrop dari Bandung. Juga ada dried food yang diimpor dari Jerman dan Australia, seperti garam, gula, susu, bihun, pasta, minyak goreng, dan lainnya.”

Sejak buka kios pertengahan tahun ini, Melly bukan saja bertindak sebagai penjual, tapi juga “juru kampanye”. Soalnya, “Banyak yang belum tahu makanan organik. Bahkan di awal-awal promosi, aku sampai bagi-bagi selebaran tentang makanan organik. Kayak juru kampanye,” ujarnya sambil tertawa.

Memang, kata Melly, sayur dan buah organik harganya lebih mahal. Apalagi kalau sudah masuk di supermarket, bisa berlipat-lipat harganya. “Kalau aku, sih, enggak mau jual mahal-mahal. Niatku, selain berbisnis, ingin berbagi kepedulian hidup sehat,” ujar Melly yang mengaku hanya mengambil sedikit keuntungan.

Mahalnya sayur dan buah orgaik, lanjut Melly, karena penghasil makanan organik masih jarang dan ragamnya masih sedikit. Produksinya pun tergantung musim. “Selain itu, untuk menghasilkan makanan organik, perlu lebih banyak tenaga kerja. Tanaman harus satu per satu diperiksa,” ujar Melly yang terobsesi memiliki kebun sendiri plus supermarket tempat ia memasarkan hasil kebunnya.

Kini, menjelang Lebaran, Melly dan suaminya, Prakaca, sedang sibuk menyiapkan parsel berisi makanan organik. Harganya berkisar antara Rp 350 ribu-Rp 750 ribu. “Pikir-pikir, kan, bagus, ya, kalau memberi hadiah makanan sehat. Makanya, sejak awal puasa kemarin, aku sudah mulai bikin,” kata Melly yang sudah dapat sekitar 20 pesanan parsel.

Anak Sampai Pembantu Makan Sayur Organik

Seperti halnya Lucy, Sophie juga tahu soal khasiat makanan organik dari kegemarannya membaca. “Tapi waktu mau cari makanan organik, susah banget. Lalu, waktu hamil, aku berniat mengonsumsi makanan sehat. Nah, mulai, deh, aku hunting makanan organik yang kandungan kimianya betul-betul nol. Waktu itu, hanya bisa didapat di sebuah supermarket yang segmennya orang bule di Jakarta,” ujar artis cantik ini.

Meski harganya tiga kali lipat dari bahan makanan yang biasa, “Demi anak yang ada dalam kandungan, saya tetap membeli.” Ketika Rangga Namora Putra Bharata (11 bulan) mulai diperkenalkan pada makanan padat, Sophie memberinya sayuran organik.

Waktu itu, cerita Sophie, “Saya sempat frustrasi juga karena kesulitan mencari ragam sayuran organik. Masak Rangga hanya dikasih bayam, wortel, dan tomat setiap hari? Aku sampai mencari ke setiap supermarket besar di Jakarta.”

Beruntung ia akhinya mendapat info bahwa Melly Manahutu berbisnis sayuran organik. “Ternyata harga di toko dia, lebih murah. Ragam sayurannya pun lebih banyak.” Alhasil, makanan padat organik untuk Rangga pun mulai beragam, seperti ayam, bihun, beras merah, kentang, pasta, kacang kapri, hingga kacang hijau. Buah-buahan juga tersedia. “Mau alpukat, stroberi, dan mangga, juga ada.”

Belakangan, Sophie yang sempat berhenti makan sayuran organik usai melahirkan, memutuskan kembali ke bahan-bahan organik. “Aku pikir, kenapa enggak sekalian buat sekeluarga? Efisien juga, kan, enggak harus belanja dan masak dua kali,” kata istri Pongki Jikustik ini. Sejak itu, ia membeli makanan organik dalam partai besar. “Tak hanya sayur dan buah, beras, ayam, gula, kacang-kacangan, dan pasta, juga yang organik.” Sampai ke pembantu dan pengasuh anaknya, “Semua sama, makan makanan organik.”

Ketika Rangga memasuki usia 10 bulan, Sophie mulai menggunakan garam organik. Pasalnya, garam organik tidak melalui proses bleaching dan lebih alami. “Memang, sih, harganya lebih mahal karena masih impor. Sebungkusnya Rp 18 ribu,” kata Sophie yang sekali belanja sayuran bisa menghabiskan sekitar Rp 70 ribu. “Tapi itu untuk 2-3 hari.”

Kini, Sophie mengaku mulai merasakan khasiat makanan organik yang dikonsumsinya. Badannya terasa lebih segar, sehat, dan ringan. “Untuk Rangga, hasilnya belum kelihatan banget. Cuma matanya lebih cemerlang. Mungkin karena vitamin yang terkandung dalam sayuran,” papar Sophie yang merasa bangga lantaran sang anak sudah doyan makan sayuran dalam bentuk apa pun.

“Artinya, kan, meringankan tugas saya di masa depan, yaitu membiasakan anak untuk melihat sayur sebagai a way of life. Sebagai perempuan, kita punya tugas jadi istri dan ibu. Artinya, kita juga punya tanggung jawab menyehatkan keluarga. Apa yang kita taruh di meja makan, itu yang dimakan anak dan suami. Masak, sih, kita mau taruh sampah atau makanan yang enggak sehat?” katanya panjang lebar.

Menabung Untuk Hari Depan Yang Sehat

Dari bacaan yang dilahapnya, personel AB Three ini jadi merasa takut karena di mana-mana orang menggunakan pestisida, bahan pengawet, bahan kimia, pengawet, dan lainnya untuk mengolah bahan makanan. “Termasuk untuk makanan bayi. Padahal, semua itu bikin daya tahan tubuh bayi ringkih dan kalau terlalu lama menumpuk di tubuh, bisa jadi racun dan sumber penyakit,” ujarnya serius.

Nah, ketika hamil, Lucy tak mau mengambil risiko untuk jabang bayinya. Ia pun mulai rajin mengonsumsi makanan organik. Bahkan setelah anaknya, Keitaro Jose Purnomo (1)
lahir hingga sekarang, selalu diberi makanan organik. “Aku, sih, enggak terlalu ketat harus makan makanan organik. Tapi kalau buat Keitaro, suatu keharusan. Jadi, setelah diberi ASI ekslusif dan mulai diperkenalkan pada makanan padat, sejak itu aku kasih jus sayuran atau buah organik,” kisahnya antusias.

Yang kerap bikin Lucy pusing, sayuran organik amat tergantung pada musim. “Jika iklimnya tidak mendukung untuk panen, beberapa jenis sayuran susah didapat. Pernah aku sulit sekali menemukan brokoli, wortel, atau tomat. Sudah keliling ke beberapa toko, enggak ketemu juga. Untungnya, sekarang sudah mulai banyak dijual di supermarket. Jenisnya juga mulai beragam.”

Ia lalu memberi contoh, “Dulu, mau bikin sayur sop yang bahan-bahannya organik, susah banget. Kentang dan daun seledrinya enggak ada,” kata Lucy yang rajin berburu bahan makanan organik dua atau tiga kali dalam seminggu. “Bisa berjam-jam aku muter-muter mencari sayuran organik. Mulai dari yang dekat rumah di kawasan Pondok Indah, hingga dekat rumah orangtuaku di Jatibening. Soalnya, kata Lucy, sayur hanya tahan 2-3 hari sehingga ia harus sering mencari stok sayuran buat buah hatinya. “Untuk Keitaro, aku paling sering beli bayam, wortel, tomat, buncis, dan brokoli.”

Sumber protein berupa daging dan ayam untuk anaknya, juga diusahakan memakai yang organik. “Ayam organik juga lebih tahan lama. Kalau menyimpannya bagus, bisa tahan sampai dua minggu. Tapi pernah juga, sih, kehabisan stok ayam organik. Akhirnya terpaksa pakai ayam kampung yang bebas suntikan hormon,” kisahnya.

Soal harga yang lebih mahal, Lucy mengaku tidak terlalu mempermasalahkan. Demi anaknya, ia ingin mengupayakan yang terbaik. Jadi, beda Rp 5.000 hingga Rp 10.000, “Enggak masalah. Untuk masalah kesehatan, kita tidak usah lihat harga lagi, deh. Siapa lagi yang menghargai diri kita selain kita sendiri? Jadi, menurut aku, antara harga dan efek positif yang kita dapat, seimbang,” kata Lucy yang dalam hal ini mendapat dukungan dari suami.

Targetnya, untuk Keitaro ia akan terus memberi asupan organik minimal sampai usia 5 tahun. Pasalnya, kalau sudah masuk usia sekolah SD, “Anak mulai berteman dan tahu jajan. Tidak bisa setiap saat kita mengontrol.”

Masalah khasiat makanan organik, tambah Lucy, tak bisa dirasakan dalam sekejap. “Baru terasa dalam jangka waktu panjang. Mungkin 5-6 tahun lagi baru terasa, kita tidak rentan terhadap penyakit darah tinggi, jantung, kolesterol, dan sebagainya. Jadi, hitung-hitung menabung untuk hari depan yang lebih sehat, deh.”
Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

Advertisements

Jangan Remehkan Radang Gusi dan Sariawan

Tanpa disadari, sebagian orang kadang menganggap “enteng” sariawan dan penyakit rongga mulut lain, seperti bau napas tak sedap hingga gusi berdarah dan gigi ompong.

Padahal, penelitian terakhir menunjukkan adanya kaitan erat antara bertumpuknya bakteri di rongga mulut dengan penyakit berat lain, seperti diabetes, serangan jantung, infeksi darah, hingga soal bayi dengan berat tidak memadai….

Radang gusi diakui menjadi faktor utama kasus gigi tanggal dan kerusakan jaringan penyangga gigi. Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Amerika Serikat (CDC) memperkirakan 30 persen warga AS mengidap radang gusi pada tingkat periodontitis, sedangkan satu dari lima orang menderita sariawan atau radang gusi ringan.

Tidak mengherankan jika pada tahun 2005 sebanyak 500 juta warga AS rutin ke dokter gigi. Berarti, diperlukan dana sekitar 84 miliar dollar AS setahun. Itu menurut perkiraan Asosiasi Dental Amerika (ADA). Lebih dari itu, setiap tahun, sebanyak 28.000 warga AS terkena kanker mulut dan tenggorokan. Sekitar 7.200 di antaranya meninggal dunia.

Masalah itu mengusik Dr Jean Connor, ahli kesehatan gigi dari Cambridge, Massachusettes, yang baru terpilih sebagai Ketua Asosiasi Kesehatan Gigi AS. Menurut dia, radang gusi dicurigai memberi kontribusi cukup signifikan pada “rusaknya” kondisi kesehatan keseluruhan melalui aliran darah.

“Jadi, jika jari Anda infeksi dan Anda diamkan saja, lama-lama (infeksi itu) akan berpengaruh ke seluruh tubuh. Begitu juga dengan mulut,” kata Dr Connor kepada media kesehatan Health Day, Sabtu (14/10). “Penyakit gusi atau rongga mulut memproduksi bakteri yang luar biasa banyak. Jadi, jika ada masalah di katup jantung Anda, bakteri-bakteri itu akan menyerbu dan menyebabkan infeksi jantung,” katanya.

Meningkat

Penelitian terakhir CDC menunjukkan, risiko serangan jantung dan stroke meningkat pada penderita radang gusi dan rongga mulut, dengan tingkat keakutanyang berbeda.Selain itu, kaitan antara penyakit gusi dan diabetes pun semakin nyata. Umumnya penderita diabetes terjangkit radang gusi pada tingkat yang lebih tinggi, yaitu periodontal. Karena itu, CDC sedang meneliti kemungkinan adanya timbal balik dari kasus ini. Artinya, sedang dicari kemungkinan merawat penderita diabetes dengan lebih mengendalikan radang gusi.

Pendapat itu diperkuat Dr Diann Bomkamp, ahli kesehatan gigi dari St Louis, AS, yang juga Wakil Ketua Asosiasi Kesehatan Gigi AS. Infeksi darah yang disebabkan oleh radang gusi bisa pula menyebabkan kegagalan operasi “penggabungan”. Dalam arti, infeksi darah akan memperkuat upaya tubuh untuk menolak penggabungan implan artifisial.

Ia menekankan, wanita yang bermasalah dengan radang gusi dua kali lebih besar kemungkinannya melahirkan bayi prematur. Khususnya, dari kasus kurang berat badan hingga bayi terinfeksi. “Jika Anda kebetulan sedang hamil dan menderita radang gusi, ada kemungkinan kehamilan dan kelahiran bayi Anda nanti bermasalah,” ujarnya.

Sariawan oleh banyak orang dikenal sebagai luka pada selaput lendir di daerah mulut. Umumnya luka di daerah mulut tidaklah dalam. Jika tidak dibarengi dengan komplikasi karena infeksi oleh kuman yang lebih ganas, sariawan akan sembuh sendiritanpa bekas(Kompas 5 Juni 1994). Infeksi ini biasanya dimulai dengan munculnya gelembung berisi cairan di mulut. Gelembung ini bisa pecah dan membentuk luka yang akan terasa nyeri.

Pada kasus tertentu, sariawan bisa pula dianggap sebagai salah satu indikasi kanker mulut, sejauh tidak pernah sembuh dan tidak pernah hilangdari mulut(Kompas 21 November 2004). Walau begitu, kepastian itu bergantung pada hasil biopsi yang dilakukan para dokter.

Penuh bakteri

Data di Institut Kesehatan Nasional AS menunjukkan, penyakit radang gusi dipicu oleh bertumpuknya bakteri di mulut akibat terabaikannya kesehatan dan kebersihan mulut. Bersama dengan lendir dan partikel lain, bakteri-bakteri ini terus membentuk plak yang lengket dan tidak berwarna di seputar gigi. Jika tidak dibersihkan secara rutin, plak ini lama-lama akan berkembang menjadi “tartar” yang tidak akan hilang hanya dengan gosok gigi.

Semakin lama plak dan “tartar” bersemayam di gigi, bakteri-bakteri itu akan menyebabkan radang gusi ringan yang disebut ginggivitis. Gusi akan berwarna kemerahan, bengkak, dan mudah berdarah, tetapi tidak merusak tulang gigi atau jaringan penyangga gigi. Pada tingkat ini, pengobatan cukup dengan dibersihkan secara teratur dan menyeluruh.

Walau begitu, jika dibiarkan, radang ringan ini bisa berkembang menjadi “periodontitis”. Artinya, radang di sekitar gigi. Pada tahap ini gusi terkelupas dari gigi dan membentuk kantung infeksi. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh harus berjuang keras melawan para bakteri busuk seiring meluas dan tumbuhnya plak di sekitar gusi.

Toksin bakteri dan enzim tubuh akan terus berusaha menghambat infeksi yang sebenarnya sudah mulai menghancurkan tulang dan jaringan penyangga gigi. Jika tidak segera diatasi, tulang gigi, gusi, dan jaringan penyangga gigi akan hancur. Gigi-gigi pun akan segera tanggal atau harus dicabut.

Radang gusi biasanya baru muncul pada usia 30-an hingga 40-an tahun. Umumnya radang gusi pada tingkat periodontitis lebih banyak menyerang kaum pria. Meski remaja jarang terkena radang gusi, banyak pula yang menderita ginggivitis.

Ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan radang gusi. Antara lain, rokok, perubahan hormon pada wanita, diabetes, stres, kanker, AIDS, faktor genetika, kurang gizi, dan obat. Beberapa obat, seperti antidepresan dan sebagian obat jantung, bisa menyebabkan radang gusi karena mengurangi aliran air liur yang sebenarnya memiliki efek protektif pada gigi dan gusi. Nah!

Air soda dan sikat gigi

Selain faktor cukup berat seperti stres, perubahan hormon, diabetes, dan genetika, radang gusi bisa terjadi oleh sebab ringan, seperti makanan manis, air soda, dan tembakau. Dan tak ada cara lain yang lebih jitu untuk menyelesaikan kasus radang gusi dan sariawan, kecuali menyikat gigi secara benar, rutin, dan menyeluruh….

Karena itu, tidak ada cara lebih baik kecuali mencegah terjadinya sariawan atau radang gusi. Setidaknya itu saran dari Dr Diann Bomkamp, pakar kesehatan gigi dari St Louis, AS. Pencegahan harus segera dilakukan ketika seseorang mendapati gusinya berwarna kemerahan, bengkak, dan terasa sedikit lunak. Hal itu ditambah dengan gigi yang mulai terasa ngilu, bau mulut yang tak sedap, serta gusi mudah berdarah ketika disikat.

Menurut Bomkamp, merawat dan membersihkan gigi secara teratur dan benar harus diimbangi dengan menghindari atau membatasi konsumsi makanan manis dan air soda. “Kami sering melihat orang yang mengonsumsi minuman ringan atau air soda sebagai sarapan pagi, kemudian meminumnya sepanjang hari. Meski ’diet soda’, soda tetap saja mengandung asam yang bisa merusak gigi dan gusi,” kata Bomkamp.

Mengutip data dari CDC, ia menekankan pentingnya setiap orang membatasi jumlah asupan makanan manis. “Mereka juga harus terus ingat bahwa rekomendasi lima hari untuk buah dan sayur yang mengandung serat tinggi juga sangat baik bagi kesehatan mulut dan gigi. Menurut dia, mengonsumsi buah dan sayur berserat tinggi akan memperlancar peredaran air liur. Akibatnya, remineralisasi permukaan gigi akan sangat terbantu sehingga bisa mencegah pengeroposan awal gigi.”

Lebih dari itu, Bomkamp dengan tegas menekankan pentingnya orangtua tidak berbagi minuman dengan anak kecil, terutama jika si orangtua menderita radang gusi. “Bahkan, ketika kita meniup makanan agar cepat dingin di depan si kecil, itu bisa menyalurkan bakteri mulut orangtua kepada anak,” ujarnya.

Hal lain yang harus dihindari, lanjut Bomkamp, adalah tembakau. “Perokok tujuh kali lebih besar kemungkinannya terkena radang gusi ringan hingga periodontitis,” katanya. “Menghindari tembakau adalah jalan terbaik,” ujar Bomkamp.

Selain faktor diet seperti anjuran Bomkamp serta pengobatan melalui medis, beberapa pihak menggarisbawahi pentingnya sistem pengobatan herbal. Dalam catatan Kompas, ada beberapa jenis tanaman dan dedaunan di Indonesia yang umum digunakan untuk mengatasi sariawan atau radang gusi tersebut, misalnya daun sirih (Piper betle), daun saga telik (Abrus precatorius), jambu mede (Anacardium occidentale), mentimun (Cucumis sativus), dan nira aren (Arenga pinnata Mer).

Walau begitu, sikat gigi tetap menjadi unsur terpenting. Dalam arti, menggosok gigi cukup dua kali sehari karena menggosok gigi terlalu sering justru akan merusak email gigi. Disarankan pula menggunakan sikat gigi berbulu halus dan menggosok gigi secara hati-hati, tidak serampangan dan singkat.

Selain itu, gunakan sikat yang sesuai dengan ukuran mulut sehingga memungkinkan pembersihan hingga ke seluruh sudut mulut dan gigi. Selamat mencoba!

Penulis: Rien Kuntari

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

Makanan Organik Membuat Hidup Sehat

JAKARTA – Tak ada orang yang tak mau hidup sehat. Dengan pola hidup teratur dan menghindari stres, hal itu bisa terpenuhi. Satu hal lain yang patut diperhatikan adalah pemilihan makanan. Seperti apa makanan yang bisa dibilang baik, hingga bisa menunjang pola hidup sehat tersebut. Jenis makanan organik merupakan solusi saat ini.

Hingga sekarang masih banyak orang yang bertanya-tanya mengenai pangan organik. Banyak juga yang mendefinisikannya sebagai makanan segar tanpa bahan kimia dan pestisida. Namun, banyak juga yang menganggap makanan jenis ini adalah makanan khusus orang-orang yang ‘gila’ kembali ke alam. Terlepas dari itu semua, harus diakui jenis makanan ini baik untuk mengurangi efek negatif racun dari berbagai bahan kimia dan pestisida.
Istilah makanan organik tidak sepenuhnya mengacu pada objek makanan tersebut. Namun menyangkut bagaimana proses produksi dan pengolahan makanan. Jadi ada benarnya anggapan jenis makanan diproduksi tanpa menggunakan bahan-bahan kimia beracun.
Sampai sekarang kita tak bisa lepas sepenuhnya dari residu kimia dan pestisida. Contohnya tanah masih tetap mengandung bahan kimia karena penggunaan pupuk urea. Atau polusi udara dan air yang juga turut memberikan andil. Ini karena tidak semua petani Indonesia menggunakan sistem pertanian ekologis – memperhatikan kaidah kesehatan dan lingkungan.
Jadi, apa alasan kuat yang bisa diajukan untuk memilih makanan jenis ini.

Alasan

Hippocrates, pemikir ilmu kesehatan modern, mengungkapkan biarkan makanan menjadi obat Anda dan biarkan obat menjadi makanan Anda. Pemikiran Hippocrates tersebut sekarang digali ulang sebagai landasan mengapa kita seharusnya memilih makanan.
Alasan yang berikutnya adalah masalah masa depan. Generasi penerus kita tidak seharusnya menerima akibat negatif dari apa yang kita lakukan sekarang. Hasil studi terakhir membuktikan bahwa anak-anak terkena empat kali lebih banyak efek pestisida daripada orang dewasa.
Sampai sekarang tercatat setidaknya ada delapan jenis pestisida dalam makanan yang dapat menyebabkan kanker. Pilihan makanan yang non-residu kimia dan pestisida saat ini akan membawa pengaruh penting pada kesehatan generasi mendatang.
Juga masalah ini bersangkutan dengan kemauan kita melindungi kualitas air. Seperti kita tahu, dua pertiga dari tubuh kita mengandung air. Air juga memenuhi dua pertiga isi bumi ini. Air sangat penting bagi kehidupan manusia. Tapi, hingga sekarang diperkirakan kebanyakan air tanah telah tercemar oleh pestisida.
Sudah ada 38 negara yang tingkat pencemaran airnya melebihi ambang batas, dan mirisnya berarti lebih dari setengah penduduk negara tersebut meminum air tercemar tadi.
Alasan lain adalah penghematan energi. Kebanyakan pertanian modern sekarang menggunakan bahan bakar minyak bumi. Hingga mencapai total 12 persen yang dikonsumsi oleh sektor tersebut. Berarti banyak energi yang dibutuhkan untuk memproduksi pupuk kimia daripada untuk mengolah dan memanen tanaman.
Secara kesehatan, pestisida ternyata bisa juga menyebabkan kanker. Hampir 1,4 juta kasus kanker di dunia disebabkan oleh bahan ini. Ternyata pestisida juga memberikan pengaruh pada cacat kelahiran, kerusakan syaraf dan mutasi genetik.
Memilih makanan ini berarti kita juga menolong kelangsungan hidup petani. Secara kesehatan, para pekerja pertanian terancam saat harus menggunakan pestisida. Ini karena aturan penggunaan pestisida di negara berkembang belum menjamin keamanan penggunaannya. Hingga sekarang diperkirakan satu juta petani mengalami keracunan pestisida per tahunnya. Beberapa jenis pestisida yang dilarang digunakan di negara AS ternyata masih diproduksi dan diekspor ke negara-negara berkembang tersebut.

Keuntungan
Memilih makanan organik ini bila dilihat dari segi nutrisi, ternyata mengandung kandungan gizi lebih baik dibandingkan dengan bahan pangan non-organik. Sehingga secara logika berarti lebih membantu proses pertumbuhan dan perbaikan tubuh bila mengalami masalah.
”Makanan juga jenis ini juga ternyata lebih hemat”, demikian menurut penuturan Ibu Bibong Widyarti D, salah seorang pengguna jenis makanan organik. Hal tersebut bisa dimungkinkan karena jenis makanan ini lebih lama basi, hingga tidak banyak beras yang terbuang, lanjutnya menguatkan.
Jadi, bukanlah hal yang merugikan bila kita memutuskan menggunakan jenis produk makanan organik sebagai alternatif makanan keluarga kita di rumah. Untungnya adalah penghematan proses produksi dan mengurangi tingkat kerusakan lingkungan di bumi yang kita cintai ini, jadi Makanan Organik Membuat Hidup Sehat

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Video Melilea Organik

August 11, 2008

Video Melilea Organik

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat

http://melilea-organik.com

Inilah Video Melilea Organik

Melilea

Video Melilea Organik

Makanan Oganik dengan 6 Mitosnya

TREN mengonsumsi makanan organik memang mulai meningkat seiring dengan kesadaran akan betapa pentingnya faktor makanan bagi kesehatan. Sebagian masyarakat bahkan rela mengeluarkan bujet lebih besar demi mendapatkan buah-buahan atau sayuran organik yang di Tanah Air relatif masih terbilang lebih mahal ketimbang jenis biasa.

Mengonsumsi makanan organik secara konsisten diyakini dapat menjadi upaya mempetahankan diri dari ancaman beragam penyakit. Makanan organik dinilai sehat karena pada saat proses penanaman sampai panen tidak mengalami proses kimiawi atau menggunakan bahan sintetik, seperti pestisida, herbisida, pupuk dengan kandungan kimia, penyuntikan hormon atau antibiotik, serta prosesnya tanpa radiasi ionisasi maupun pemodifikasian genetik. Karena itu, proses yang natural tersebut aman untuk dikonsumsi oleh tubuh.

Makanan Organik meskipun menyehatkan, sebenarnya tak semua makanan organik menguntungkan. Ada beberapa mitos seputar makanan organik yang harus diluruskan. Dengan memahaminya, Anda dapat menggunakan makanan organik dengan tepat.

1. Organik selalu aman dan baik bagi lingkungan?.
Organik memang ditanam di tanah yang tidak terkontaminasi kandungan kimia atau disiram dengan pestisida dan jenis zat kimia lain seperti halnya lahan pertanian biasa. Namun begitu, sejak lahan pertanian organik hanya memproduksi setengah dari produksi pertania konvensional. Penanaman organik menjad memboroskann lahan dalam penanaman buah da sayuran.

Dennis Avery dari Hudson Institute’s Center for Global Food Issues memperkirakan pertanian sistem modern menghemat hingga 15 juta meter persegi pembukaan hutan dan habitat binatang liar. Jika seluruh dunia harus memilih penanaman organik, kita harus mengorbankan hutan hingga 10 juta mil persegi hutan.

2. Organik lebih banyak mengandung nutrisi?
Berbagai studi mengenai makanan organik selalu tidak konsisten. Ada yang menyebut kandungan vitamin C dalam tomat organik lebih baik ketimbang tomat biasa; ada juga yang menemukan kadar anti-kanker flavonoids pada jagun dan strawberri organik. Namun riset lainnya menyebutkan bahwa makanan organik tidak memiliki keunggulan lebih dalam hal kandungan nutrisi . Apa yang membuat perbedaan mencolok dalam hal kandungan nutrisinya adalah berapa lama ditanam dan disimpan di rak makanan. Bayam misalnya, bia kehilangan setengah dari kadar foliatenya dalam selang waktu sepekan.

3. Organik lebih enak rasanya?
Tidak ada yang bisa mengungkapkannya kecuali dalam sebuan penelitian tentang apel, di mana yang jenis organik memang lebih unggul. Untuk mendapatkan raspberries yang rasanya lebih alami atau asam-manis, Anda harus membelinya di tempat buah itu ditanam, pada musimnya dan tidak disimpan dalam jangka waktu lama. Kenyataannya, buah atau sayuran tidak akan lagi dalam kondisi terbaiknya bila sudah melewati penerbangann yang lama atau melewati proses pelapisan. Belum lagi bila harus tersimpan selama seminggu di pasar atau toko.

4. Tak perlu dicuci terlalu bersih seperti makanan biasa.
Seluruh produk organik, apakah dibeli dari toko grosir atau petani lokal di dekat rumah Anda, tetap rawan akan kontaminasi bakteri seperti E. coli. Tanah dan sumber pengairan yang terkontaminasi E. coli bisa menempel da masuk dalam buah atau sayur. Melon, selada, tauge, tomat, sbayam, daun bawang, bisa tercemar ketik mereka tumbuh dan dekat dengan tanah. Cara terbaik untuk mengatasinya adalah: Cuci semua produk dengan air yang mengalir.

5. Memakai organik = membantu petani kecil atau perusahaan ramah lingkungan?
Perusahaan-perusahaan raksasa di AS justru berbisnis di sektor organik. General Mills memiliki Cascadian Farms, Kraft berada di belakang Back to Nature dan Boca Burger. Kellogg’s memiliki Morningstar Farms, Tingginya permintaan membuat perusahaan-perusahaan ini mengimpor baha-bahan organik semurah mungkin dari negara lain. Meski nilai penjualan produk makanan organik di AS melonjak hingga $1 miliar pada tahun lalu, ironisnya hanya sekitar 16 persen saja yang ditanam di lahan lokal. Dengan CO2 yang dihasilkan dari transportasi, keramahan produk organik bagi lingkungan menjadi dipertanyakan.

6. Organik lebih sehat buat Anda?
Makanan organik tidak lagi menyehatkan bila bentuknya sudah menjadi kripik organik, soda organik atau kue organik. Gula dari tebu organik juga tetaplah gula, keripik dari kentang organik juga tetaplah digoreng.

Sumber : yanagizawa.blogspot.com

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea
http://melilea-organik.com

Bisnis Melilea

May 9, 2008

Bisnis melilea

Bisnis Melilea bergerak dalam bidang makanan organik

Saat ini orang menyadari adanya peningkatan jumlah dan jenis makanan organik yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan bahan makanan. Salah satu jenis makanan sehat yang disebut sebagai makanan organik telah menyebar luas dari sangat eksklusif dan jarang menjadi mudah ditemui di pasaran.

Mungkin timbul pertanyaan dalam dirimu apa sih makanan organik? Apakah itu makanan yang sehat? Apakah aman untuk dikonsumsi? Apakah mereka cukup memberi keuntungan dengan uang tambahan yang kita keluarkan dengan harga yang relatif mahal dibanding makanan biasa? Lalu bagaimanakah rasanya?

Makanan organik adalah sejenis makanan yang saat masa pertumbuhannya tidak menggunakan bahan-bahan seperti: pestisida, herbisida, antibiotik, bioengineering, hormon, radiasi ionisasi, dan bahan penyubur tanaman yang terbuat dari kandungan sintetis. Makanan organik yang berasal dari hewan seperti daging merah, telur, dan makanan tanpa lemak adalah makanan yang berasal dari hewan yang bahan makanannya 100 persen makanan organik. Tidak pernah disuntik antibiotik atau makanan penyubur dan dibiarkan tumbuh normal dan bisa berhubungan dengan lingkungan luar.

Jika sebuah produk berlabel organik, hal ini berarti pemerintah telah memberi sertifikat setelah melakukan tinjauan pada lahan pertanian tempat produk diproduksi. Para petani yang memproduksi makanan organik menggunakan sumber-sumber yang terdaur ulang yang menjaga kesuburan tanah dan ketersediaan air untuk generasi mendatang.

Makanan organik pun ada berbagai macam:
– Berlabel ”100 persen organik”, makanan yang mengandung seluruh bahan organik.
– Berlabel ”Organik”, makanan yang paling tidak mengandung 95 persen kandungan organik.
– Berlabel ”Terbuat dari bahan organik”, biasanya terdiri atas 70 persen bahan-bahan organik.

Istilah lain yang sering kita dengar berhubungan dengan makanan alami atau organik adalah sustainable (berkelanjutan). Istilah ini mendorong konsumsi makanan lokal yang proses perkembangannya secara tradisional yang ada di dekat kita dengan teknik yang tidak merusak lingkungan, berdasarkan musim dan menjaga lahan agrikultural. Makanan organik dan sustainable tak selamanya memiliki arti sama. Sebagai contoh, tomat organik mungkin saja tak termasuk makanan sustainable jika didatangkan dari luar negeri ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut. Dan, di sisi lain, bahan makanan yang berasal dari lokal dan diolah dengan sustainable belum tentu ditumbuhkembangkan secara organik.

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
http://melilea-organik.com

Sulitnya Mencari Makanan Sehat di Pasaran

Repotnya jadi konsumen di Indonesia! Memilih produk makanan yang sehattampaknya perlu kerja keras. Bayangkan! Pengujian di laboratorium Balai Besar POM Yogyakarta, Semarang, maupun Medan, menunjukkan, setengah dari contoh produk pangan mengandung bahan tambahan makanan terlarang.

Zat tambahan berbahaya yang paling sering ditambahkan produsen adalah zat pewarna rhodamine B dan methanyl yellow, pemanis buatan siklamat atau sakarin, serta pembuat kenyal berupa formalin atau boraks.

Kendati, Badan POM telah cukup lama mensosialisasikan kepada konsumen maupun produsen, tampaknya belum ada tanda-tanda makanan yang mengandung zat berbahaya itu akan lenyap dari pasaran. Demikian terungkap dalam round table discussion perumusan strategi promosi keamanan pangan oleh Badan POM di Jakarta, belum lama ini.

Masalah terbesar dalam penggunaan zat berbahaya ini adalah: kesadaran konsumen untuk lebih berhati-hati memilih makanan masih sangat rendah. Yang penting kenyang dan lezat. Sedangkan buat produsen, tak ada larangan tegas yang menghalangi mereka menambahkan zat apapun dalam produk mereka, terutama buat industri rumah tangga.

Waspadai Makanan Berwarna Warni

Rhodamine B, adalah pewarna tekstil, yang jadi favorit produsen untuk membuat warna produknya berwarna-warni menarik. Padahal, zat ini sangat beracun jika tertelan, terhirup maupun terserap lewat kulit. Zat ini juga bersifat karsinogenik atau dapat memicu kanker.

Pengawet Makanan yang Bikin Umur Tak Awet
Formalin adalah zat pengawet yang paling sering digunakan produsen makanan yang tak bertanggung jawab. Larutan formaldehid sebenarnya berfungsi sebagai desinfektan. Formaldehid biasa digunakan industri plastik, busa, dan resin untuk kertas, karpet, tekstil, cat, dan furnitur. Zat ini sangat iritatif, bisa menimbulkan luka bakar bahkan mematikan.

Bakso dan Mie Kenyal yang Bikin Celaka
Bakso dan Mie yang kenyal biasanya jadi favorit. Oleh karena itu pembuatnya tak segan-segan menambahkan boraks pada adonan bakso. Padahal boraks berfungsi sebagai antibakteri dan antijamur untuk luar tubuh. Digunakan sebagai pengawet pada industri kayu dan produk antiseptik toilet. Konsumsi dalam jangka panjang dapat membahayakan kesehatan.

Pemanis Buatan, Menghemat Gula, Memicu Tumor
Siklamat merupakan pemanis buatan yang pernah dilarang Food and Drugs Administration (FDA), AS, karena dari hasil penelitian terhadap tikus dan mencit, diketahui bisa menimbulkan tumor kandung kemih. Sakarin, pemanis buatan yang biasa digunakan untuk diet pelangsingan dan penderita diabetes juga menimbulkan kontroversi yang sama. (pusdiknakes.or.id)

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

makanan sehat

Melilea Organik Makanan Kesehatan

Terapi Berpuasa
Mengaktifkan Sel-Sel
Menguatkan Sistem Endoktrin
Membersihkan Toksin Tubuh
Menyeimbangkan Nutrisi Dalam Tubuh
Memperkuat Metabolisme

Melangsingkan Badan

Memperkuat Sistem Pertahanan
Mencegah Datangnya Penyakit Modern
Meningkatkan Fungsi Fisiologis

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Makanan Organik

March 2, 2008

Makanan Organik

Bisnis Makananan Melilea

Saat ini orang menyadari adanya peningkatan jumlah dan jenis makanan organik yang tersedia di pusat-pusat perbelanjaan bahan makanan. Salah satu jenis makanan sehat yang disebut sebagai makanan organik telah menyebar luas dari sangat eksklusif dan jarang menjadi mudah ditemui di pasaran.

Mungkin timbul pertanyaan dalam dirimu apa sih makanan organik? Apakah itu makanan yang sehat? Apakah aman untuk dikonsumsi? Apakah mereka cukup memberi keuntungan dengan uang tambahan yang kita keluarkan dengan harga yang relatif mahal dibanding makanan biasa? Lalu bagaimanakah rasanya?

Makanan organik adalah sejenis makanan yang saat masa pertumbuhannya tidak menggunakan bahan-bahan seperti: pestisida, herbisida, antibiotik, bioengineering, hormon, radiasi ionisasi, dan bahan penyubur tanaman yang terbuat dari kandungan sintetis. Makanan organik yang berasal dari hewan seperti daging merah, telur, dan makanan tanpa lemak adalah makanan yang berasal dari hewan yang bahan makanannya 100 persen makanan organik. Tidak pernah disuntik antibiotik atau makanan penyubur dan dibiarkan tumbuh normal dan bisa berhubungan dengan lingkungan luar.

Jika sebuah produk berlabel organik, hal ini berarti pemerintah telah memberi sertifikat setelah melakukan tinjauan pada lahan pertanian tempat produk diproduksi. Para petani yang memproduksinya menggunakan sumber-sumber yang terdaur ulang yang menjaga kesuburan tanah dan ketersediaan air untuk generasi mendatang.

Makanan organik pun ada berbagai macam:
– Berlabel ”100 persen organik”, makanan yang mengandung seluruh bahan organik.
– Berlabel ”Organik”, makanan yang paling tidak mengandung 95 persen kandungan organik.
– Berlabel ”Terbuat dari bahan organik”, biasanya terdiri atas 70 persen bahan-bahan organik.

Istilah lain yang sering kita dengar berhubungan dengan makanan alami atau organik adalah sustainable (berkelanjutan). Istilah ini mendorong konsumsi makanan lokal yang proses perkembangannya secara tradisional yang ada di dekat kita dengan teknik yang tidak merusak lingkungan, berdasarkan musim dan menjaga lahan agrikultural. Makanan organik dan sustainable tak selamanya memiliki arti sama. Sebagai contoh, tomat mungkin saja tak termasuk makanan sustainable jika didatangkan dari luar negeri ke Indonesia dengan menggunakan kapal laut. Dan, di sisi lain, bahan makanan yang berasal dari lokal dan diolah dengan sustainable belum tentu ditumbuhkembangkan secara organik.

Peluang Bisnis | Peluang Usaha | Bisnis Internet | Bisnis Online Halal

Bisnis Halal

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Makanan Organik Kian “Ngetren”

UMBI radies (semacam lobak) yang dibudidayakan secara organik oleh produsen sayuran organik Kampung Panaruban, Sagala Herang, Kab. Subang. Sebagian masyarakat perkotaan yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan (“health awarness”), makanan-makanan organik memang sedang digandrungi.* ADE BAYU

FANNY mengaku sudah mengonsumsi makanan-makanan organik sejak dirinya tahu bahwa efek pestisida sangat membahayakan tubuh. “Kebayang kan, tanpa sadar kita sedang menumpuk zat-zat berbahaya seperti karsinogen ke dalam tubuh. Ugh.. ngeri! Bisa-bisa ntar saya kena kanker,” ujar Fanny, karyawati sebuah perusahaan BUMN di Bandung.

Lain Fanny lain pula Muti. Bagi Muti, makanan organik sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Maklumlah, Muti dan keluarganya memang baru kembali ke tanah air setelah 3 tahun ikut suaminya menyelesaikan program doktor di Eropa. “Tapi sayang ya, di sini tidak semua supermarket menyediakan makanan organik,” keluhnya.

Bagi sebagian masyarakat perkotaan yang sudah sadar akan pentingnya kesehatan (health awareness), makanan-makanan organik memang sedang digandrungi. Bahkan beberapa kalangan selebriti seperti Sarah Sechan, Gunawan, Sofia Latjuba, dan masih banyak lagi, dengan terang-terangan menyatakan hanya ingin hidup sehat dengan sayuran dan makanan-makanan organik.

Menurut standar yang ditetapkan Amerika Serikat seperti dirilis situs food for health, makanan organik adalah makanan-makanan yang “100% organik” dan “organik” (untuk yang setidaknya 95%) diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, radiasi untuk mematikan kuman, atau tanaman/ hewan yang mengalami modifikasi genetis (GMO, genetically modified organism).

Itulah sebabnya, masih menurut situs itu tadi, masyarakat Singapura akan lebih menyukai sayuran dengan bekas gigitan ulat dibandingkan dengan sayuran mulus. Pasalnya, gigitan ulat notabene menjadi penanda bahwa sayuran tersebut diproduksi secara organik.

Lalu bagaimana dengan di Indonesia? Menurut Nick Djatnika dari Kandaga Organic, produsen makanan-makanan organik Kampung Panaruban, Sagala Herang, Kab. Subang Jawa Barat, mengonsumsi makanan-makanan organik saat ini sudah menjadi gaya hidup sebagian orang. Hal itu sejalan dengan semakin membaiknya tingkat kesadaran masyarakat terhadap kesehatan.

Jika dikelompokkan, ada dua jenis konsumen makanan-makanan organik. Konsumen yang sudah aware dengan kesehatan dan konsumen mantan pasien yang pernah menderita suatu penyakit tertentu. Konsumen pertama bertujuan lebih kepada menjaga (preventif) sedangkan konsumen kedua bertujuan untuk merehabilitasi (kuratif) kondisi kesehatan mereka.

Namun, jika melihat latar belakang sosial, menurut Costumer Affair Kandaga Organic, Sari yok Koeswoyo, 60 % konsumen makanan organik adalah kalangan ekspatriat, sedangkan sisanya (40 %) adalah masyarakat pribumi yang umumnya pernah tinggal di luar negeri.

Meski demikian, tren ini semakin berkembang dan meluas. Hal itu seiring dengan semakin banyaknya masyarakat yang ingin hidup lebih sehat.

Jumlah terbesar dari konsumen ini masih dipegang Jakarta, disusul Bogor dan Bandung. Hal itu dapat dilihat dari beberapa permintaan yang masuk langsung kepada dirinya maupun ke focalpoint Kandaga Organic. “Alasan mereka mengonsumsi sayuran ini karena mereka ingin hidup lebih sehat. Masyarakat semakin menyadari bahwa sakit itu jauh lebih mahal dibandingkan dengan sehat,” ujar Sari.

Kebutuhan pasar yang kian tinggi ternyata tidak diimbangi dengan ketersediaan barang. Diakui Jatnika, bergerak di sayuran organik memang membutuhkan kerangka berpikir yang berbeda. Meskipun sistem pengelolaannya sangat bergantung kepada alam, semua sistem dan tata kelolanya harus bersertifikasi. Makanya tidak heran jika sayuran organik hanya dapat diperoleh di pasar-pasar swalayan tertentu. Bahkan Sari mengakui, pihaknya lebih memilih sistem delivery untuk melayani pelanggannya. Selain pelanggan lebih terpuaskan, pengantaran barang pun bisa disesuaikan dengan produksi.

Meski demikian, cara seperti itu tidak mempersempit pasar. Promosi dari mulut ke mulut justru lebih memperluas konsumen makanan organik. Malah Sari mengakui, permintaan seringkali jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ketersediaan barang.

“Mungkin di situlah mengapa sebagian kalangan menilai kalau sayuran organik itu mahal. Teori pasar kan memang begitu. Ketika permintaan tinggi, barang tidak ada, pasti mahal,” ujarnya.

Padahal, sistem produksi dan pengelolaan sayuran organik memang harus bersertifikasi. Sedangkan syarat untuk sertifikasi saja memerlukan dana yang tidak sedikit. “Tapi kalau konsumennya sudah aware dengan kesehatan, tidak akan merasa mahal kok. Lagi pula, kesehatan kan memang investasi,” paparnya.

**

TREN mengonsumsi makanan organik di masyarakat diakui ahli gizi dr. Kunkun K. Wiramihardja, M.S. Bila dilihat dari sisi petani, kecenderungan mengembangkan sayuran jenis ini menurut dr. Kunkun merupakan usaha petani untuk memotong kerusakan fisik sayuran dan penyusutan gizi sayuran tersebut. Sebab produksi sayuran yang bukan organik, memungkinkan tingkat kerusakan sayuran sangat tinggi dibandingkan dengan sayuran organik.

Secara fisik, sayuran biasa (anorganik) cenderung cepat busuk dibandingkan dengan sayuran organik. Sayuran ini juga sangat mungkin terkontaminasi insektisida dan pestisida yang digunakan pada proses produksi (penanaman).

Bukan hanya sayuran, tanah sebagai media tanam juga bisa cepat rusak. Karena sayuran yang diproduksi anorganik, harus diberi pupuk kimia dan untuk mengusir hama digunakan insektisida. Akibatnya, mungkin sayuran bisa terbebas hama dan cepat sistem produksinya. Tetapi menghadirkan “penyakit baru” yang merupakan efek dari insektisida dan pestisida.

Sayuran organik lebih banyak dikembangkan oleh para petani intelek. Berbeda dengan sayuran organik. Sejak awal, proses penanaman sayuran organik diupayakan terhindar dari zat-zat kimia. Sayuran organik diproduksi secara alami dengan menggunakan pupuk kandang dan agar terhindar dari hama, digunakan pengusir hama dari tumbuhan.

Cara produksi tanaman ini sebenarnya jauh lebih mahal dan rumit dibandingkan dengan memproduksi sayuran biasa. Oleh karena itu wajar, bila harga sayuran ini lebih mahal dibandingkan dengan harga sayuran biasa (anorganik).

Akan tetapi bila dilihat dari sisi ahli gizi, tidak ada perbedaan kandungan gizi ataupun vitamin antara sayuran organik dan sayuran biasa. Hanya, sayuran organik lebih terhindar dari kemungkinan pencemaran zat-zat kimia pestisida, insektisida, maupun herbisida sehingga konsumen bisa lebih percaya diri bahwa makanan yang dikonsumsinya diproduksi dengan cara sehat.

Kandungan vitamin sayuran sangat ditentukan oleh cara pengolahan dan cara penyimpanannya. Sayuran organik tidak akan bermanfaat bagi tubuh kalau pengolahannya tidak tepat.

Pengolahan sayur oganik yang tepat, sebaiknya direbus walau cumabeberapa menit. Sedangkan untuk sayuran jenis salad/lalap yang langsung dimakan akan lebih aman bila diseduh air panas terlebih dahulu atau dicuci dengan teliti.

Hal itu dilakukan agar terhindar dari telur-telur cacing yang mungkin masih tertinggal. Mengingat sayuran organik tidak menggunakan zat-zat kimia pengusir hama, termasuk cacing. “Mencuci atau merebus sayuran itu penting agar terhindar dari telur-telur cacing. Tetapi jangan berlebihan karena akan mengurangi kadar kandungan vitamin sayuran tersebut,” papar dr. Kunkun.

Daya tahan sayuran organik memang berbeda dengan sayuran biasa. Sayuran organik bisa lebih tahan lama bila disimpan di lemari pendingin. Jika sayuran biasa hanya tahan satu minggu di lemari es, sayuran organik bisa lebih lama dua kali lipat.

Meski demikian, konsumen sayuran organik harus tetap memerhatikan cara penyimpanan. Serangga lalat, selama ini dianggap paling berbahaya, tapi jangan abaikan pula kecoa. Penyimpanan sayuran organik yang salah dapat mengundang makhluk menjijikkan ini menghampirinya.

Sama halnya dengan sayuran lain, sayuran organik mengandung vitamin C dan vitamin B Kompleks. Jika pengolahan dan penyimpannya tidak tepat, semua kandungan tersebut akan menyusut atau hilang sama sekali.
Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com