Diet bagi Penderita Diabetes

September 16, 2007

Diet untuk Penderita Diabetes

Wisnu Adi Yulianto

DIABETES melitus atau kencing manis telah menjadi masalah kesehatan dunia. Prevalensi dan insiden penyakit ini meningkat secara drastis di negara-negara industri baru dan negara sedang berkembang, termasuk Indonesia. Pada tahun 2003 terdapat sekitar 150 juta kasus diabetes di dunia, dan pada tahun 2025 diperkirakan jumlahnya meningkat dua kali lipat (WHO, 2003). Pada tahun itu, jumlah penderita diabetes di Indonesia diprediksi mencapai 12 juta jiwa.

OLEH karena itu, upaya pencegahan dan penanganan diabetes perlu mendapat perhatian yang serius. Jika tidak, dampak penyakit tersebut akan membawa komplikasi pada berbagai penyakit lain, seperti impotensi, penyakit jantung, stroke (berisiko 2-4 kali lebih tinggi), tekanan darah tinggi, gagal ginjal, dan kerusakan sistem saraf. Hal ini tidak saja menyebabkan biaya perawatan dan pengobatannya yang mahal, tetapi juga mengakibatkan laju kematian penderita diabetes (age-adjusted) mencapai 1,5-2,5 kali lebih tinggi dibandingkan dengan penduduk umumnya.

Penyakit diabetes yang banyak diderita (mencakup 90-95 persen) adalah diabetes tipe 2, yaitu karena tubuh tak cukup menghasilkan insulin atau menggunakan insulin untuk menurunkan gula darah (glukosa). Meski belum bisa disembuhkan, sesungguhnya penderita penyakit ini tetap dapat hidup normal jika mereka menerapkan pengelolaan diabetes yang baik. Langkah-langkah yang mesti dilakukan di antaranya penurunan berat tubuh bagi yang kelebihan berat dan kegemukan, olahraga atau latihan fisik secara teratur, pengaturan pola makan yang baik, menghindari stres dan memeriksakan kadar gula darahnya.

Dari strategi tersebut, cara pertama dan kedua telah berhasil dengan meyakinkan menurunkan risiko diabetes. Sedangkan cara ketiga, meskipun banyak penelitian yang menunjukkan beberapa bahan pangan sanggup menurunkan risiko diabetes, hingga sekarang belum ada diet khusus untuk diabetes, yang ada adalah upaya menormalkan kembali kadar gula darah tersebut (60-120 mg/dL).

Untuk mencapai tujuan itu, maka pengaturan dietnya haruslah memperhatikan berat tubuh dan aktivitas penderita diabetes guna menentukan besarnya kalori, adanya komplikasi penyakit lain, jenis dan jumlah makanan yang dikonsumsi.

Sebagai pedoman, besarnya kalori untuk wanita diabetes adalah berat badan ideal (BBI) dikalikan 25 K.kalori ditambah 20 persen untuk aktivitas, sedangkan untuk pria BBI dikalikan 25 K.kalori ditambah 20 persen untuk aktivitas. BBI dihitung dengan rumusan tinggi badan (cm) dikurangi 100 cm dikurangi 10 persen, tetapi untuk wanita di bawah 150 cm dan pria di bawah 160 cm tak perlu dikurangi 10 persen lagi. Jadi, misalnya seorang pria diabetes dengan berat 65 kg dan tinggi 170 cm akan membutuhkan sebanyak 2.268 K.kalori. Namun jika penderita kelebihan berat jumlah kalorinya dikurangi, sebaliknya jika kekurangan berat badan kalorinya ditambah.

Sejumlah kalori tersebut harus dipenuhi dari karbohidrat (60-70 persen), protein (10-15 persen), dan lemak (20-25 persen) di dalam menu makanan sehari-hari sebagaimana orang sehat. Vitamin dan mineral tetap wajib dipenuhi meski tidak menghasilkan energi. Sebagai patokan, satu gram lemak/minyak dapat menghasilkan 9 K.kalori, sedangkan karbohidrat dan protein masing- masing menyumbang 4 K.kalori/gram-nya.

Jenis bahan pangan yang telah direkomendasi oleh Joint WHO/FAO Expert Consultative (2003) untuk menurunkan risiko diabetes adalah memenuhi asupan polisakarida bukan pati (Non-Starch Polysaccharides/ NSP) melalui konsumsi leguminosa dan serealia utuh, buah-buahan dan sayur-sayuran. Asupan hariannya minimal sebanyak 20 gram. Selain itu, memastikan bahwa asupan lemak jenuhnya tidak melebihi 10 persen dari total energi dan untuk kelompok yang berisiko tinggi, asupan lemak tersebut sebaiknya kurang dari 7 persen total energi.

NSP sering kali dianggap identik dengan serat pangan (dietary fibre). Kini, total serat pangan didefinisikan sebagai komponen pangan yang tersusun dari NSP + resistant starch (pati tahan cerna) + lignin. Yang termasuk kelompok NSP di antaranya selulosa, hemiselulosa, pektin, beta-glukan, fruktan, gum, mucilage (getah), dan polisakarida ganggang/alga. Banyak penelitian telah membuktikan bahwa konsumsi pangan tinggi NSP (biji-bijian utuh, sayuran dan buah-buahan) berhasil menurunkan risiko diabetes karena dapat menurunkan level gula darah dan insulin serta mengurangi risiko progresi buruknya toleransi glukosa pada diabetes tipe 2.

Bahan pangan yang kaya NSP, khususnya bentuk terlarut, seperti kacang-kacangan (pulse) memilki indeks glisemik (IG) yang rendah. Bahan pangan dengan IG yang rendah, tanpa memperhatikan kandungan NSP-nya, tidak hanya menghasilkan respons gula darah yang rendah setelah makan, tetapi juga ikut memperbaiki keseluruhan dalam pengendalian glisemik (diukur haemoglobin A1c).

Meskipun demikian, IG rendah bukan satu-satunya pilihan bagi pengidap diabetes, karena kadar lemak dan fruktosa yang tinggi pada bahan pangan juga menghasilkan IG yang rendah, tetapi menyimpan energi yang tinggi. Sementara itu, asupan lemak total dan lemak jenuh yang tinggi, keduanya berkaitan dengan tingginya risiko kerusakan toleransi glukosa, tinggi level glukosa dan insulin selama puasa, dan rendahnya sensitivitas insulin. Sebaliknya, asupan asam lemak tak jenuh yang tinggi berhubungan dengan turunnya risiko diabetes tipe 2 dan rendahnya kadar glukosa serta meningkatnya sensitivitas insulin.

Oleh karena itu, pemilihan bahan pangan yang tercakup dalam makanan empat sehat lima sempurna atau dalam menu seimbang bagi penderita diabetes seharusnya memperhatikan tiga aspek, yaitu kecukupan kalori, konsumsi pangan tinggi NSP (IG rendah) dan kurangi konsumsi lemak, terutama lemak jenuh. Untuk membantu menentukan pilihan tersebut dapat digunakan panduan (Tabel).

Sekali lagi, sesungguhnya semua makanan boleh dimakan oleh penderita diabetes, asalkan sanggup membatasi jumlahnya sesuai kebutuhannya. Jika tidak, apalagi sulit menurunkan gula darahnya, untuk amannya konsumsilah jenis makanan yang disarankan tersebut.

Setelah mengetahui jenis dan jumlahnya yang harus dimakan, langkah berikutnya adalah mengatur jadwal makan. Sebaiknya penderita diabetes tetap makan “besar” tiga kali (pagi, siang dan malam) ditambah makanan selingan tiga kali sehingga selang/interval makannya tiga jam. Dengan selang waktu tersebut, glukosa yang terbentuk sudah masuk sel atau jaringan otot.

Petunjuk yang terakhir bagi penderita diabetes adalah jangan mudah stres. Keadaan ini boleh jadi mengacaukan hormon-hormon dan buruknya kinerja organ-organ tubuh sehingga berdampak pada rendahnya produksi dan sensitivitas insulin.

Disarankan diet bagi penderita diabetes.

Dan jangan lupa memeriksakan kadar gula darah sehingga dapat terus mengelola dietnya dengan baik.

Wisnu Adi Yulianto Dosen Universitas Wangsa Manggala, Yogyakarta

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Advertisements

Diabetes bagi ibu hamil

September 16, 2007

Diabetes bagi ibu hamil

Gestational Diabetes
Pertanyaan Pengasuh yang terhormat, Saya sedang hamil lima bulan. Dari pemeriksaan laboratorium diketahui ternyata kadar gula saya di atas normal. Padahal selama ini saya tidak menderita diabetes, bahkan sebulan sebelum hamil saya sudah menjalani tes darah dan pada saat itu pun kadar gula darah saya dinyatakan normal. Dokter mengatakan saya menderita gestational diabetes (diabetes semasa hamil) namun tidak memberikan obat selain vitamin yang biasa diberikan, karena –menurut dokter– penyakit ini dapat sembuh sendiri. Dokter hanya menyarankan agar saya mengurangi makan yang manis-manis dan mengontrol kadar gula darah ke laboratorium dua minggu sekali.
Saya mohon penjelasan dari pengasuh:
1. Apa yang dimaksud dengan gestational diabetes tersebut? Apakah sama dengan penyakit kencing manis?
2. Benarkah penyakit ini dapat sembuh sendiri?
3. Apa yang harus dilakukan atau dihindari untuk mempercepat kesembuhan?
4. Apa pengaruh penyakit ini terhadap bayi saya? Apakah penyakit ini akan mempersulit kelahiran bayi saya?
5. Apakah penyakit ini akan menurun pada bayi saya?
Demikian pertanyaan saya, mohon dapat segera dijawab. Terima kasih.
Ny Syaiful Amri, Surabaya

Jawab
Ibu Syaiful Amri yang baik,
Gestational diabetes adalah sejenis diabetes atau penyakit kencing manis yang timbul semasa hamil, mulai muncul sekitar bulan kelima atau keenam masa kehamilan. Sekitar 4-5 % wanita hamil diketahui menderita gestational diabetes dan umumnya dapat ditangani dengan baik. Oleh sebab itu Ibu tidak usah terlalu khawatir. Benar seperti informasi yang diberikan dokter, penyakit ini biasanya dapat menghilang alias sembuh sendiri beberapa bulan setelah melahirkan.

Namun demikian penanganan yang tepat terhadap penderita gestational diabetes sangat perlu dilakukan, sebab jika tidak penyakit ini dapat mempersulit kelahiran dan memberikan pengaruh yang tidak baik terhadap kesehatan Ibu maupun bayi yang dilahirkan. Sayang Ibu tidak menyebutkan berapa kadar gula darah Ibu. Namun dugaan saya mungkin tidak terlalu tinggi sehingga dokter tidak merasa perlu memberikan obat diabetes kepada Ibu. Apalagi, seorang Ibu hamil memang sebaiknya sangat dihindarkan dari penggunaan obat-obatan kecuali memang terpaksa.

Sebagaimana penyakit diabetes (lengkapnya: diabetes mellitus) atau lebih kita kenal dengan istilah penyakit kencing manis yang lain, gestational diabetes ditandai dengan kadar gula yang tinggi, baik dalam darah maupun urin (air seni) penderita. Hal ini disebabkan karena gula yang berasal dari makanan yang dimakan tidak dapat digunakan dengan baik oleh tubuh karena sulit masuk ke dalam sel. Untuk Ibu ketahui, agar dapat diolah dan dimanfaatkan oleh tubuh semua zat-zat gizi atau sari makanan harus masuk ke dalam sel, sebab pengolahan (metabolisme) zat-zat makanan berlangsung di dalam sel. Zat-zat ini diserap dari usus dan dibawa oleh darah ke dalam sel. Di dalam sel-sel tubuhlah berlangsung proses pengolahan zat-zat sari makanan, menjadi energi ataupun zat-zat lain yang diperlukan oleh tubuh.

Jika ada gangguan pengangkutan zat gula darah (disebut glukosa) ke dalam sel, maka glukosa ini akan tinggal di luar sel (di dalam darah). Inilah yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Pengangkutan glukosa ke dalam sel dibantu oleh sejenis hormon yang disebut insulin. Normalnya, tubuh dapat membuat insulin sesuai dengan kebutuhan tubuh kita. Oleh sebab itu tidak perlu tambahan dari luar. Tetapi pada penderita diabetes dengan kondisi tertentu, diperlukan penambahan insulin (biasanya dalam bentuk suntikan), untuk membantu masuknya glukosa ke dalam sel dan mempertahankan kadar gula darah tetap normal.

Untuk mengontrol agar kadar gula darah tidak tinggi, maka Ibu harus membatasi makanan yang manis-manis. Tetapi harap Ibu ketahui, gula (glukosa) tidak hanya berasal dari makanan yang rasanya manis, tetapi semua makanan yang mengandung atau terbuat dari tepung, termasuk nasi, ketan, mi, bihun, singkong, ubi, kentang, roti, serta berbagai kue dan penganan yang terbuat dari terigu, di dalam tubuh akan diubah menjadi glukosa. Oleh sebab itu Ibu juga harus membatasi makan yang mengandung atau terbuat dari tepung. Sebaliknya, Ibu sebaiknya memperbanyak makan buah dan sayur untuk mencukupi kebutuhan vitamin dan mineral, baik bagi Ibu maupun bayi yang Ibu kandung.

Selain mengatur diet, salah satu cara yang sudah terbukti ampuh dalam penanganan diabetes adalah olahraga. Berolahraga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar gula darah tetap normal. Mintalah nasihat pada dokter, olahraga apa yang baik Anda lakukan. Anda tidak perlu olahraga berat. Olahraga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus pengaruhnya bagi kesehatan, misalnya jalan pagi atau senam ringan yang dilakukan rutin setiap hari. Kalau dapat, mintalah pada dokter olahraga dan dokter kandungan Anda, agar dibuatkan porsi olah raga yang cocok untuk Anda.

Ibu Syaiful Amri yang baik, gestational diabetes ini dapat mempengaruhi janin Anda, dapat pula tidak. Jika Anda menanganinya dengan baik, insya Allah pengaruhnya terhadap bayi akan minimal. Gestational diabetes tidak akan menurun dan menyebabkan bayi Anda kelak menderita diabetes. Jika Anda tidak dapat menjaga kadar gula darah Anda dengan baik, bayi yang Anda kandung justru berisiko akan menderita hipoglikemia (kadar gula darah terlalu rendah), yang dampaknya buruk bagi kesehatan dan perkembangan tubuhnya. Ini disebabkan semasa dalam kandungan ia sudah terbiasa dengan kadar gula darah yang tinggi, sehingga tubuhnya beradaptasi dengan selalu membuat banyak insulin. Insulin yang banyak ini akan mendorong pengangkutan gula darah masuk ke dalam sel secara berlebihan. Akibatnya gula di dalam darah menjadi terlalu rendah. Ini yang disebut hipoglikemia.

Tingginya pengangkutan gula ke dalam sel-sel tubuh bayi dapat berakibat bayi memiliki tubuh yang besar dengan berat tubuh di atas rata-rata. Hal ini dapat mempersulit kelahiran, sekaligus meningkatkan risiko bagi Ibu dan bayinya. Oleh sebab itu sangat penting bagi Ibu untuk memeriksakan kadar gula darah ke laboratorium secara rutin dan menjaganya tetap dalam batas normal dengan diet dan olahraga. Jika dengan dua cara ini tidak berhasil, mungkin dokter akan memikirkan cara lain, misalnya dengan memberi obat. Walaupun gestational diabetes umumnya akan sembuh setelah melahirkan, namun ini berarti risiko Anda untuk menderita diabetes lebih tinggi dari wanita sehat lainnya. Oleh sebab itu sangat penting bagi Anda untuk tetap berolahraga secara teratur dan melakukan diet secara proporsional setelah melahirkan kelak. Demikian penjelasan yang dapat kami berikan, mudah-mudahan bermanfaat. Semoga Allah melindungi dan memberi kesehatan kepada Ibu dan bayi Ibu beserta seluruh keluarga. Salam.

Diabetes bagi ibu hamil

(Dr Ernawati Sinaga MSApt.)
Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com