Produk organik

August 10, 2007

Produk organik

Apakah Produk Organik Mahal ?

BANDUNG, KOMPAS–Harga produk pertanian organik masih lebih mahal dibandingkan anorganik. Bila ingin harganya lebih terjangkau, produksi pertanian organik harus ditingkatkan.

Meski demikian, peningkatan produksi itu terkendala karena antusias petani yang rendah dan belum adanya lembaga sertifikasi resmi untuk komoditas organik.

Kepala Seksi Panen dan Pemasaran Produk Primer Dinas Perkebunan Jabar, Iyus Supriatna, Rabu (6/9), mengatakan, harga produk pertanian organik memang lebih mahal. Harga produk organik bisa lebih tinggi 50 persen. Apalagi, bila produk sudah mendapatkan sertifikat organik Standar Nasional Indonesia (SNI), harganya bisa melonjak menjadi 10 kali lipat.

Sertifikat SNI itu bernomor 01-6729-2002 Tentang Sistem Pangan Organik. Perusahaan yang sudah memenuhi SNI untuk produk organik yaitu PT Perkebunan Nusantara VIII. Contohnya, teh Walini yang harganya mencapai Rp 30.000 per kemasan isi 50 gram. Harga produk anorganik biasanya hanya sekitar Rp 3.000 per kemasan dengan berat sama.

Meski harganya tinggi dan lebih sehat, peningkatan produktivitas produk organik tidaklah mudah. Sebab, antusias para petani terhadap produk organik belum setinggi tanaman anorganik. Pasalnya, ketersediaan unsur hara dari pupuk organik sangat lama. Produktivitas bisa berjalan normal setelah lahan diberi pupuk organik selama dua sampai tiga tahun.

Menurut Iyus, mahalnya harga produk organik disebabkan permintaan yang tinggi tetapi persediaan barang terbatas. Produksinya setiap tahun pun cenderung stangnan. Hasil dari Jabar setiap tahun sekitar 500 ton per tahun.

Jumlah itu hanya mampu memenuhi kebutuhan pasar sekitar 40 persen. Mahalnya produk organik juga disebabkan cara distribusinya yang tidak boleh dicampur dengan barang anorganik karena dikhawatirkan terkontaminasi bahan kimia.

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Advertisements

Mendorong Pengembangan Produk Organik

Mendorong Pengembangan Produk Organik. Produk pangan yang ditanam dengan sistem organik saat ini mulai banyak dijumpai di pasaran, meski jumlahnya masih sedikit dibanding produk nonorganik. Menanggapi ini, Bali Organic Association (BOA) mengupayakan untuk mengembangkan produk pertanian organik sebagai produk hilir.

“Jika sekarang petani mulai menggunakan sistem pertanian organik, tinggal mengajak mereka lebih kreatif dengan mengolah apa yang mereka tanam. Dengan pola pengembangan di bagian hilir ini, diharapkan pendapatan petani bisa lebih baik,” kata Ketua BOA, Dr Ni Luh Kartini, dalam peluncuran produk olahan pertanian di Denpasar, Senin (15/5).

BOA merintis sistem pertanian organik sejak 1997. Dengan merangkul petani di beberapa daerah seperti Nusa Penida di Klungkung, Pemuteran di Tabanan, dan Pelaga di Badung, sekarang berkembang penanaman padi, palawija, sayur-sayuran, jambu mete dan buah-buahan tanpa pupuk kimia. Penjualan hasil tanaman itu, diakui Kartini, masih terkendala oleh kurangnya promosi dan kontinuitas produk.

Dalam upaya meningkatkan kualitas hidup petani, saat ini BOA bekerjasama dengan petani melalui penyuluhan dan pendampingan tentang pemanfaatan hasil pertanian.

Sekarang selain menjual hasil tanaman berupa padi dan sayuran, petani mulai diajak mengembangkan sirup dari alang-alang, secang, ubi ungu dan beberapa macam buah. Selain itu mereka juga mengembangkan penganan seperti keripik dari buah nangka. Kesemuanya ditanam dengan sistem organik.

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Pilih Yang Organik Kalau Mau Murah

Pilih Yang Organik Kalau Mau Murah. DALAM dunia konsumsi, sering kali terdengar ramalan bahwa barang konsumsi yang akan selalu unggul dan laku di pasaran adalah segala yang berkaitan dengan fashion, food (makanan), fun (kesenangan), dan health (kesehatan).

INDUSTRI sering kali menyikapinya dengan kecerdikan tersendiri demi menggenggam benak konsumennya. Produk organik, misalnya, dengan mengusung gagasan kesehatan, secara berkesinambungan mulai tampak berhasil merebut benak masyarakat konsumsi, sekalipun harganya bisa begitu mahal.

Beragam produk organik pertanian lokal saat ini marak meramaikan gerai-gerai penjualan di berbagai supermarket di kota-kota besar di Indonesia. Tak hanya sayuran dan buah-buahan, belakangan juga muncul ayam, telur kampung, dan susu organik. Produk organik tersebut mengklaim bebas pestisida, pupuk kimia, hormon pertumbuhan, dan benih transgenik. Sedangkan pestisida dan pupuk kimia, misalnya, diyakini menyebabkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk pencemaran lingkungan yang merusak ekosistem.

Namun, sering kali untuk sesuatu yang bermutu bisa dijustifikasi dengan harga mahal. Sementara menjadi sehat adalah hak setiap orang. Ucapan “ada mutu, ada harga” tidak selamanya tepat, terlebih untuk produk pertanian organik.

“Produk pertanian organik justru ongkos produksinya bisa jauh lebih rendah daripada produk pertanian konvensional sehingga harga tidak harus mahal,” kata Herningsih Prihastuti, petani organik skala kecil di kawasan Puncak.

Petani yang menjalankan pertanian organik tidak lagi perlu membeli pupuk kimia, pestisida, dan bibit. Pupuk organik diperoleh tidak harus dengan membeli, namun justru harus dengan memanfaatkan limbah hasil pertanian. Sementara penanggulangan hama dilakukan dengan sistem polikultur, rotasi tanaman, dan ramuan pestisida alami. Bibit pun mereka peroleh dari hasil pertanian sendiri, bukan terpaksa harus membeli dari industri bibit. “Jadi, nilai harga suatu produk bisa lebih dikontribusikan untuk petani atau petani penggarapnya,” kata Herningsih.

Lalu mengapa produk pertanian organik lokal di toko swalayan bisa demikian mahal?

Hal ini tidak terlepas dari rantai distribusi dari produsen hingga ke konsumen. Pihak perantara, yaitu pedagang, kerap menaikkan harga atas pertimbangan psikologi konsumen. Asumsinya, konsumen organik adalah pasar yang memiliki kesadaran kesehatan tinggi sehingga dianggap sudi merogoh kocek lebih dalam. Belum lagi pertimbangan gaya hidup yang bisa membuat harga dipatok suka-suka.

Sayuran organik bisa dicirikan dari penampilannya yang bersahaja. Sayuran dan buah organik tidaklah berpenampilan mulus dan cemerlang warnanya. Bahkan tidak jarang, daun sayuran tampak bolong-bolong akibat termakan ulat. Namun, rupanya itulah ciri bahwa itu merupakan sayuran sehat. Perlu diingat, sayuran aeroponik dan hidroponik yang juga beredar di pasaran secara prinsip sangat berbeda dengan sayuran organik. Sayuran aeroponik misalnya, meski mengklaim bebas pestisida, namun produk tersebut tidak mengklaim bebas nutrisi kimia ataupun benih transgenik.

“Binatang, hama, juga ulat punya naluri tajam. Dia tidak mau sayuran yang beracun, yaitu berpestisida. Tetapi, justru manusia salah kaprah, manusia justru suka sayuran yang ulat saja tidak mau, yaitu yang berpestisida,” kata YP Sudaryanto dari Pertanian Organis Pater Agatho, salah satu pionir pengembangan pertanian organik di Indonesia.

Bahkan, Herningsih mengaku saat dirinya masih bertani secara konvensional, tanaman kolnya sering disemprot pestisida yang dicampur dengan lem supaya tidak luntur oleh hujan. Produk pertanian yang telah dipanen juga kerap masih disemprot lagi dengan pestisida supaya tidak lekas busuk.

“PRODUK organik sudah telanjur tercoreng sebagai produk eksklusif, katanya sayurannya orang kaya. Padahal, filosofinya produk organik itu sendiri sangat jauh dari itu,” kata Tejo W Jatmiko dari Konphalindo, organisasi nonpemerintah yang aktif mengkampanyekan produk pangan organik.

Untuk menyiasatinya, konsumen dapat mencari alternatif dengan memperoleh produk pertanian organik melalui komunitas organik. Sistem pemasaran produk organik seperti ini di Jepang disebut teikei. Hal ini sudah dilakukan sejak era tahun 1980-an oleh berbagai komunitas konsumen organik di Jakarta yang memasok dari Pertanian Organis Pater Agatho.

Dalam seminggu, pihak produsen dari pertanian Agatho misalnya akan mengirimkan berbagai produk pertaniannya ke sejumlah “pemimpin” komunitas di berbagai wilayah di Jakarta. Kemudian, para anggota komunitas tersebut yang rumahnya satu kawasan akan datang mengambil pesanan mereka. Dengan cara seperti ini harga produk pertanian yang mereka peroleh bisa sangat murah, bahkan hingga mencapai 50 persen lebih rendah dari harga produk organik di supermarket.

Hal yang sama juga diterapkan Herningsih. Selaku produsen, Herningsih kini memiliki delapan kelompok konsumen organik di wilayah Jabodetabek. Seminggu sekali setelah panen, Herningsih akan membawa turun hasil panennya dari Puncak ke rumahnya di Jakarta. Kemudian, para “pemimpin” kelompok konsumen akan datang ke rumah Herningsih untuk mengambil pesanan sayur dan buah dari para anggota kelompoknya. Para anggota kelompok itu lalu bisa mengambil pesanan mereka di rumah ketua kelompok.

Sistem harga yang diterapkan adalah harga flat, artinya tidak tergantung hukum ekonomi penawaran dan permintaan. Jadi, meski suplai sedang tipis, namun permintaan tinggi, harga produk tidak akan sontak melambung tinggi. Yang cukup mengherankan, betapa jauh rentang harga produk pertanian organik dengan sistem seperti ini. Brokoli organik bisa diperoleh dengan harga Rp 15.000- Rp 20.000 per kilo, sementara di toko swalayan harganya bisa mencapai Rp 70.000 per kilo.

Dalam model pemasaran seperti ini, tercipta relasi yang khas antara konsumen dan petani selaku produsen. Prinsip kejujuran merupakan fundamental relasi tersebut. “Pemasaran produk organik dengan cara seperti ini juga sangat terasa unsur sosialnya. Tidak sekadar demi kesehatan, komunitas konsumennya dan produsennya seolah punya filosofi yang sama dalam menghargai alam,” ujar Esty Lauren, salah satu anggota komunitas yang tinggal di Ancol, Jakarta.

Untuk mengetahui kredibilitas produk organik, sertifikasi bukanlah cara mutlak untuk saat ini, di mana petani-petani kecil yang bertani organik mulai bermunculan. Petani yang tulus menjalankan pertanian organik biasanya juga akan sangat transparan terhadap produknya.

“Ketika saya baru pertama kali menjalankan pertanian organik, saya tidak langsung mengklaim produk saya organik seratus persen. Konsumen harus tahu yang sebenarnya. Boleh dibilang waktu itu masih 60 persen saja bisa disebut organik,” kata Herningsih, yang kini telah memeriksakan produknya ke laboratorium biologi molekuler SEAMEO Biotrop di Bogor. (SF)

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com