Beras Organik

December 18, 2007

Beras organik

Tanah Subur Menghasilkan Beras Organik

SALAH satu risiko sebuah daerah yang mengandalkan pertanian adalah berkurangnya kesuburan tanah akibat produktivitas pertanian yang terus diupayakan naik. Dengan tekad ingin mengembalikan kesuburan tanah itulah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sragen mencanangkan program penanaman beras organik.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sragen Suwarto mengatakan, pencanangan beras organik yang menggunakan pupuk alami merupakan salah satu usaha yang digunakan mengembalikan kesuburan tanah serta meningkatkan produktivitas hasil pertanian.

“Kami berharap, penggarapan lahan pertanian dengan pupuk organik juga dapat meningkatkan pendapatan sebagian besar masyarakat Sragen yang lebih dari 60 persen merupakan petani. Kalau kualitas beras tinggi, harganya juga semakin tinggi,” kata Suwarto.

Sebenarnya, secara sporadis, petani Sragen telah menggunakan pupuk kompos yang dibuat dari kotoran hewan dan tumbuh-tumbuhan. Namun, pupuk organik ini tidak dapat digunakan seratus persen dalam pertanian organik.

“Para petani masih harus mencampur dengan pupuk urea sesuai komposisi yang seimbang dan tetap saja yang paling banyak pupuk organiknya,” jelas Suwarto. Contohnya saja, bila memakai pupuk buatan dibutuhkan pupuk urea tiga kuintal per hektar. Tetapi, bila memakai pupuk organik, pemakaian pupuk urea 100 hingga 150 kilogram.

Selain itu, pemkab juga mengimbau petani untuk tidak menggunakan pestisida. Menurut Suwarto, penggunaan pestisida dalam pertanian dapat merusak kesehatan petani dan juga merusak hasil pertanian.

“Kita juga bisa kena dampak pestisida kalau mengonsumsi hasil pertanian seperti buah- buahan atau sayuran,” tambah Suwarto.

Dalam usahanya menggalakkan pertanian organik ini, Pemkab Sragen mengerahkan sekitar 140 penyuluh pertanian. Mereka selalu memberikan penjelasan tentang pengolahan pertanian yang baik. Mereka membawahi hampir 1.400 kelompok tani di 20 kecamatan.

Dalam setahun, rata-rata luas panen di Sragen 86.676 hektar. Meski dapat dikatakan sebagai penghasil beras yang cukup besar, pertanian di Sragen juga sempat kekeringan.

Misalnya, tahun 2002 lalu, kekeringan melanda sekitar 7.430 hektar dari seluruh luas tanam 40.000 hektar. Namun, tidak semua wilayah mengalami kekeringan total atau puso. Wilayah yang mengalami puso 1.945 hektar.

Seorang petani di Desa Jetak, Kecamatan Sidoharjo, Suwandi menceritakan beberapa tahun lalu, ia menggunakan pupuk urea terus-menerus untuk sawahnya yang ditanami beras.

“Lama-kelamaan sawah saya, tanahnya menjadi keras dan produksi beras menjadi jelek. Kemudian, saya mulai menggunakan pupuk kompos yang dibuat oleh kelompok tani di desa saya. Sekarang, hasilnya cukup bagus dan tanahnya juga tidak keras sekali,” kata Suwandi.

Ia mengatakan beberapa tahun lalu, ketika ia masih menggunakan pupuk urea dengan jumlah yang sangat banyak, tanah pertaniannya menjadi keras sehingga tidak ada cacing yang bisa hidup. Kini, sawah seluas seperempat hektar miliknya sudah banyak cacing yang dapat menyuburkan kembali tanahnya.

Wilayah Sragen terbagi dua yaitu sebelah selatan Bengawan Solo yang tanahnya subur dan sebelah utara Bengawan Solo yang berbukit, tanah kapur dan kurang subur. Karena itu, selain dukungan hasil pertanian, Sragen juga memiliki andalan di bidang peternakan dan perikanan. Sejak otonomi daerah, pengelolaan ketiga bidang ini dijadikan yaitu Dinas Pertanian.

Suwarto mengatakan untuk petani yang tinggal di sebelah utara Sungai Bengawan Solo, menanam palawija. Misalnya, di Kecamatan Tanon, Kecamatan Prupuk dan Kecamatan Jenar.

“Mereka sudah mengerti kalau menanam di situ banyak risikonya. Seperti pada musim kering, sering gagal panen karena hanya mengandalkan air hujan,” kata Suwarto.

Selain pertanian, Sragen juga mengandalkan bidang perikanan. Apalagi, Sragen memiliki wilayah genangan Waduk Kedungombo sekitar 2.300 hektar. Dengan aset genangan waduk inilah dikembangkan perikanan darat.

Produksi ikan darat yang paling banyak di Sragen adalah ikan nila merah yang pengembangannya melalui karamba (jaring apung dari kurungan dari anyaman bambu). Saat ini, hampir sekitar 1.000 petak jaring apung yang beroperasi di genangan waduk yang masuk di wilayah Sragen.

Hasil produksi ikan nila merah, menurut Suwarto, dipasarkan sampai keluar wilayah Sragen seperti Semarang, Yogyakarta, Surabaya, Blitar, Nganjuk, Bojonegoro serta kota lainnya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

“Dalam sehari, ikan yang dikirim ke luar Sragen 1,5 ton sampai dua ton,” kata Suwarto. Adapun pasar yang dimasuki para penghasil ikan nila mereka meliputi pasar tradisional, tempat pemancingan dan rumah makan.

Sumbangan bidang pertanian, peternakan dan perikanan ke pendapatan asli daerah (PAD) pun cukup besar yaitu Rp 1 milyar untuk tahun 2002. Angka ini diharapkan dapat dinaikkan lagi bila para petani dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian yang berefek pada peningkatan pendapatan.

Sementara itu, saat ini, Sragen juga sedang mengembangkan wilayah Sangiran Dome. Situs budaya yang berada di Kabupaten Sragen ini yang menyimpan fosil-fosil yang berhubungan dengan asal-usul manusia dan ilmu pengetahuan bertaraf internasional dan dilindungi undang-undang. Bupati Sragen Untung Wiyono merencanakan penataan kawasan Sangiran Dome dengan membangun menara pandang.

Selain gardu pandang, juga akan dibangun titik-titik situs yang pernah menghasilkan temuan-temuan penting di wilayah itu. Titik-titik situs itu akan ditandai dengan tonggak bendera yang dapat dilihat dari menara pandang.

Namun, rencana pengembangan Sangiran Dome ini masih menjadi pro dan kontra. Salah satu pihak yang mengecam adalah Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) yang menganggap rencana itu dapat merusak situs budaya di kawasan itu. Kita lihat saja nanti, apakah rencana Kabupaten Sragen ini akan berhasil mengembangkan kawasan Sangiran. (Susi Berindra)
Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Advertisements

BERAS ORGANIK

September 6, 2007

APA ITU BERAS ORGANIK

Beras organik adalah beras yang ditanam di tanah yang ramah lingkungan, 100% tidak menggunakan pestisida kimia. Perlu waktu lama untuk menghasilkan beras organic yang betul-betul murni. Kenapa ? karena untuk mengembalikan ekosistem tanah yang sudah lama terkontaminasi oleh pestisida tidaklah mudah dan cepat, perlu waktu lama, idealnya 5 sampai dengan 15 tahun. Selain harus mengembalikan ekosistem tanah, ada beberapa syarat yang perlu diperhatikan agar menghasilkan beras organic yang berkualitas, diantaranya adalah :

1. Lokasi lahan harus jauh dari polusi, misalnya : asap knalpot motor, limbah pabrik dll.
2. Sistem pengairan harus baik, tidak boleh bercampur dengan lahan pertanian yang belum organic (masih menggunakan pestisida).
3. Countur tanah Terasiring.
4. Lahan-lahan pertanian yang berada di sekitarnya tidak boleh menggunakan pestisida.

MENGAPA HARUS ORGANIK.
Ada delapan alasan mengapa harus mengkonsumsi pangan organis :

1. Untuk menjadi sehat minimal kita dapat mulai dengan apa yang kita makan sehari-hari. Karena nasi (beras) adalah 60% s/d 70% dari total yang kita makan setiap hari , jadi nasi ( beras ) sangatlah berpengaruh bagi kesehatan kita. Bayangkan berapa milli gram unsur kimia yang masuk dalam tubuh kita setiap hari .?????

2. Berhenti mengkonsumsi bahan-bahan kimia.
Semua panganan yang dibudidaya secara konvensional (menggunakan pestisida sintetis/kimia) mengandung residu bahan-bahan kimia. Semua jenis pestisida merupakan bahan Karsinogenic (Zat yang ditimbulkan karena pembakaran yang bisa merangsang tumbuhnya kanker).

3. Melindungi Anak.
Anak-anak mudah terserang racun daripada orang dewasa. Sebuah penelitian dilakukan pada tahun 1980-an menyimpulkan bahwa rata-rata anak-anak terkena bahan beracun penyebab kanker empat kali lebih banyak dari pada orang dewasa, dimana sebagian berasal dari jenis-jenis makanan anak-anak yang mereka makan. Memilih makanan memiliki sebuah efek penting bagi kesehatan anak di masa depan.

4. Melindungi kualitas air, udara dan tanah.
Mengkonsumsi pangan organis berarti kita ikut serta dalam pemulihan ekosistem yang telah rusak serta berperan serta secara aktif menjaga keseimbangan alam. Ada beberapa racun-racun POP (Persistent Org Pollutant) yang perlu diwaspadai akibat dari pemakaian pestisida sintetis/kimia selain DDT yang terdapat dalam tanah, udara dan air, diantaranya adalah : aldrin, chlordane, dieldrin, endrin, heptachlor, mirex, toxaphenyl, hexachlorobenzene, PCB (polychlorinated biphenyls), dioxin, furans.

5. Melindungi Kesehatan Pekerja Pertanian.
Dengan mengkonsumsi produk organis berarti turut membantu perjuangan mereka bagi sebuah lingkungan kerja yang sehat.
Contoh kasus :
a. 18 Penduduk transmigrasi di Lampung Utara meninggal akibat racun tikus, TBC atau kanker saluran pernafasan.
b. 12 orang petani di klaten meninggal dunia akibat racun DDT.

6. Mendukung Petani-petani Lokal Bersakala Kecil.
Membantu komunitas kita untuk mencapai ketahanan pangan.

7. Produk Organis Sebenarnya Tidak Mahal.
Banyak biaya tersembunyi jika kita membeli produk-produk yang diproduksi secara konvensional. Harga rendah pangan-pangan konvensional menandakan bahwa para pekerja pertanian tidak menerima upah yang adil.
Seorang ibu berkomentar setelah mengkonsumsi pangan organis, diantaranya adalah : “semenjak makan beras organis, keluhan rasa sakit mulai berkurang. Jadi kami bias menghemat uang untuk ke Dokter dan berobat dan suami dapat bekerja seperti biasa”. “Produk organis lebih tahan lama, tidak cepat basi, begitupun berasnya, beras organis tidak cepat bau apek, sehingga saya dapat menyimpan sayuran organis dan berasnya lebih lama. Ini kan dapat menghemat uang belanja!”.

8. Rasa Pangan organis Lebih Baik.
Menurut orang yang terbiasa mengkonsumsi pangan organis, terasa lebih manis dan renyah, dan
kesegarannya juga lebih beraroma wangi, empuk, dan lebih awet.

BAGAIMANA CIRI-CIRI BERAS SEMI ORGANIC YANG BERKUALITAS.
Beras SEMI ORGANIC adalah beras yang di tanam dengan Cara Organik tetapi lahan yang di pakai belum organik atau belum di pakai tanam organik sampai 5 Tahun.
Ada beberapa ciri-ciri dari beras Organic yang berkualitas, diantaranya adalah

1. Beras tidak berbau.
2. Bersih, licin, putih dan beraroma wangi.
3. Rasanya gurih.
4. Tidak cepat basi dalam 48 jam.
5. Kualitas lebih baik dari beras import lainnya.
6. Bila di kusumsi akan cepat kenyang.

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea
http://melilea-organik.com

Beras Organik Harus Lebih Mahal

Mentan, “Memberikan Penghasilan Lebih Baik Bagi Petani”

CIANJUR, (PR).-

Menteri Pertanian mengharapkan harga beras-beras yang berasal dari tanaman padi organik diberikan harga premium agar merangsang para petani mengembangkan tanaman yang ramah lingkungan. “Harganya harus lebih mahal karena termasuk kualitas premium,” ujar Menteri Pertanian, Anton Apriyantono, dalam Panen Bersama Padi dengan metode Sistem of Rice Intensification (SRI) di Desa Bobojong, Kec. Mande, Kab. Cianjur, Senin (30/7).

Panen bersama itu juga dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah, Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman, Menteri Pekerjaan Umum Joko Kirmanto, Menteri Usaha Kecil Menengah Suryadharma Ali, dan Direktur Utama Perum Bulog Mustafa Abubakar.

Anton mengharapkan, harga premium yang bisa diberikan untuk beras-beras organik dipatok pada Rp 10.000,00/kilogram atau jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga kualitas medium yang mencapai Rp 4.600,00 – 5.000,00 per kg. “Swalayan sudah banyak yang menawarkan menjual beras-beras organik,” katanya.

Menurut Anton, dengan harga beras-beras organik yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras anorganik diharapkan mampu memberikan tingkat penghasilan yang lebih baik bagi para petani. Sehingga, minat petani dalam mengembangkan jenis tanaman padi itu dapat lebih tinggi.

Apalagi, selama ini telah beredar anggapan yang menyatakan bahwa masyarakat akan memperoleh beras yang lebih sehat jika mengonsumsi beras organik. Bahkan, Mentan mengimbau produksi beras-beras organik yang salah satunya dihasilkan menggunakan metode SRI dapat diupayakan untuk tujuan ekspor.

Untuk itu, Departemen Pertanian (Deptan) saat ini terus berusaha mencari sejumlah eksportir yang mau memberikan harga beras-beras organik lebih tinggi. “Kalau itu bisa dilakukan, beras organik ini bisa berkembang,” katanya.

Untuk mendukung peningkatan harga beras-beras premium, Anton mengungkapkan Deptan akan menyusun sebuah standar sertifikasi untuk produk-produk pertanian dari bahan-bahan organik dan anorganik.

“Sertifikat sebenarnya sudah dimulai dan bukan hanya terbatas pada organik dan anorganik. Namun terus terang, semua itu belum bisa secara luas diberikan karena jumlah petani di Indonesia sangat besar,” kata Anton. Ia menambahkan, Deptan juga akan memberikan fasilitas kepada perusahaan atau lembaga-lembaga yang akan meminta sertifikat dari produk beras-beras yang diklaim berasal dari padi organik.

Hemat air

Sementara itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mendukung penuh rencana pengembangan 10 ribu hektare lahan padi System of Rice Intensification (SRI) organik oleh Medco Foundation. “Padi SRI organik ini adalah contoh nyata dari pembangunan berkelanjutan yang ramah lingkungan sehingga harus diterapkan seluas-luasnya,” kata Presiden.

Dari sisi ketersediaan air, misalnya, Presiden menjelaskan padi SRI organik terbukti hemat air. “Metode ini telah menjadi solusi dari bercocok tanam yang hemat air dengan produktivitas tetap berlimpah,” sambung Presiden. Lebih dari itu padi SRI organik tidak memerlukan pupuk nonorganik sehingga dapat membantu ikhtiar kita untuk menghemat gas yang selama ini diperlukan untuk pembuatan pupuk.

Juga penting untuk dicatat bahwa metode penanaman SRI ini dapat membuka solusi untuk mengatasi problem sampah di kota karena bahan organik dari sampah dapat digunakan sebagai kompos yang bermanfaat untuk budi daya padi SRI organik. “Mari kita kembangkan padi SRI organik seluas-luasnya,” kata Presiden.

Pendiri Medco Foundation, Arifin Panigoro, dalam kesempatan yang sama mengutarakan rencananya untuk mengembangkan 10.000 ha lahan padi SRI organik di Indonesia. “Kegiatan ini merupakan komitmen kami terhadap pengembangan alternatif solusi swasembada pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani,” kata Arifin.

Optimisme Arifin antara lain berangkat dari tingkat produktivitas padi SRI organik yang mencapai kisaran 10 – 12 ton per hektare. Berangkat dari kalkulasi itu, Arifin memperkirakan dibutuhkan hingga 400 ribu hektare lahan padi SRI organik untuk menutupi defisit produksi beras nasional yang mencapai 2 juta ton per tahunnya. “Perlu kerja keras dan kerja sama antarmasyarakat madani (civil society) dengan dukungan pemerintah agar cita-cita membangun 400 ribu hektare lahan padi SRI organik tersebut dapat terwujud,” kata Arifin.

Sebagai tindak lanjut, Arifin menggandeng BRI, Bank Agro, dan Bank Saudara untuk terlibat dalam tahap pertama berupa projek pengembangan 10.000 ha lahan padi SRI organik. Besaran dana yang diperlukan mencapai Rp 100 miliar. “Di antaranya untuk melatih para petani agar paham bercocok tanam metode SRI organik hingga akses ke pasar,” sambungnya.

Panen di Desa Bobojong merupakan tahap awal dari lahan percontohan penanaman padi ramah lingkungan oleh Medco Foundation. Untuk melaksanakan kegiatan ini Medco Foundation bekerja sama dengan Dewan Pemerhati Kehutanan dan Lingkungan Tatar Sunda (DPKLTS) pimpinan sesepuh Jawa Barat, Solihin G.P., dan Yayasan Aliksa Organik SRI. (A-80)***

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea
http://melilea-organik.com

Vegetarian

August 10, 2007

Vegetarian

Sekarang gaya hidup sehat sudah jadi tren. Sungguh keren ketika kita memutuskan menjadi vegetarian atau memilih hanya makan sayuran organik. Belum pernah mencoba? Menarik, kok. Simak dulu sebelum mulai.

You are what you eat, apa yang kita makan akan menentukan siapa kita. Pengaruh makanan memang sangat besar terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, bahkan pada kecantikan dan kemudaan kita.

Gracia (33), penulis, sudah dua tahun menjadi vegetarian. Keputusannya ini diambil ketika ia mulai sering mengeluh mual-mual ketika mengonsumsi daging. “Sejak jadi vegetarian tubuh saya jadi lebih enteng dan bugar. Tapi saya bukan vegetarian murni, lho, karena saya juga masih mengonsumsi susu dan telur untuk kebutuhan protein dalam tubuh,” urainya.

Jika Gracia memilih menjadi vegetarian untuk hidup lebih sehat, maka Melly Manuhuttu memilih mengonsumsi makanan organik. Tak hanya sayuran, bahkan ayam dan telur pun ia pilih yang organik. “Makanan organik membuat saya merasa aman, karena tidak ada bahan-bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh,” katanya.

Menurut Fransisca Rungkat, ahli gizi dari IPB, memang ada dua hal yang bisa diupayakan untuk hidup lebih sehat, yaitu menu makanan yang seimbang dan meminimalisir masuknya bahan-bahan kimia ke dalam tubuh.

Hewani vs Nabati

Mengonsumsi sayuran dan kacang-kacangan, memang lebih sehat daripada daging-dagingan, karena tingkat kolesterolnya rendah bahkan tidak ada sama sekali. Kolesterol hanya terdapat pada produk hewani, seperti daging, telur, atau susu.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks dan rendah kandungan lemaknya adalah resep yang paling baik untuk mengontrol diabetes. Selain itu riset terhadap vegetaris menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat kanker hanya 1/2 sampal 3/4 dibandingkan populasi umum.

Namun, bukan berarti Anda lantas tidak boleh makan daging, lho. Menurut Fransisca, yang penting Anda mengonsumsi makanan dengan seimbang, yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin dan mineral. Jika salah satu kurang, protein misalnya, maka Anda akan mudah sakit dan kulit menjadi cepat tua lantaran pergantian sel-sel baru berjalan lambat.

Boleh juga kok makan junk food. “Semua makanan baik, yang penting berapa banyak Anda memakannya. Makan hamburger, fried chicken, chips, dan sebagainya, tidak ada salahnya, asal diimbangi dengan makanan sayuran,” sarannya.

Organik atau Konvensional

Pestisida yang digunakan untuk membunuh hama dan serangga pada sayuran adalah bahan kimia yang terlarang masuk ke dalam tubuh. Begitu juga bahan kimia lainnya yang dipakai untuk menghancurkan alang-alang, yaitu gramisida. “Bahan ini bisa membunuh daun, maka bisa juga membunuh sel kita, karena daun itu mirip dengan tubuh kita,” jelas Fransisca.

Alasan itulah yang membuat orang tertarik mengonsumsi produk organik. Sayuran organik terbukti mengandung zat antioksidan 10-50 persen di atas sayuran non-organik. Dalam publikasi Coronary and Diabetic Care di Inggris, dan Association of Primary Care Groups and Trust disebutkan bahwa membiasakan diri mengonsumsi makanan organik bermanfaat mengurangi asupan bahan kimia beracun ke dalam tubuh, menyetop kemungkinan masuknya sel-sel produk pertanian hasil rekayasa genetika yang sampai kini belum diketahui bahaya dan akibatnya terhadap kesehatan, meningkatkan asupan nutrisi bermanfaat, juga menurunkan risiko kanker, penyakit jantung koroner, alergi dan hiperaktivitas pada anak-anak.

Dari segi penampilan sih sayuran organik sangat tidak menarik. Biasanya daunnya bolong-bolong karena dimakan hama, dan bentuknya lebih kecil dari sayuran non-organik. Tidak mulus.

Saat ini sayuran organik masih terbilang jauh lebih mahal, bisa 3-4 kali lipat harga sayuran mulus. Bila membeli sayuran organik membuat kantong merana, maka Anda bisa tetap mengonsumsi sayuran biasa dengan syarat, “Cuci bersih sayuran dan buah dengan sabun. Kemudian, rendam selama 5 sampai 10 detik ke dalam air panas, setelah itu baru dimasak,” saran Fransisca

Vegetarian, vegetarian, vegetarian, vegetarian, vegetarian……

Sekarang zamannya hidup vegetarian jika ingin sehat.

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com