Vegetarian

August 10, 2007

Vegetarian

Sekarang gaya hidup sehat sudah jadi tren. Sungguh keren ketika kita memutuskan menjadi vegetarian atau memilih hanya makan sayuran organik. Belum pernah mencoba? Menarik, kok. Simak dulu sebelum mulai.

You are what you eat, apa yang kita makan akan menentukan siapa kita. Pengaruh makanan memang sangat besar terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, bahkan pada kecantikan dan kemudaan kita.

Gracia (33), penulis, sudah dua tahun menjadi vegetarian. Keputusannya ini diambil ketika ia mulai sering mengeluh mual-mual ketika mengonsumsi daging. “Sejak jadi vegetarian tubuh saya jadi lebih enteng dan bugar. Tapi saya bukan vegetarian murni, lho, karena saya juga masih mengonsumsi susu dan telur untuk kebutuhan protein dalam tubuh,” urainya.

Jika Gracia memilih menjadi vegetarian untuk hidup lebih sehat, maka Melly Manuhuttu memilih mengonsumsi makanan organik. Tak hanya sayuran, bahkan ayam dan telur pun ia pilih yang organik. “Makanan organik membuat saya merasa aman, karena tidak ada bahan-bahan kimia yang masuk ke dalam tubuh,” katanya.

Menurut Fransisca Rungkat, ahli gizi dari IPB, memang ada dua hal yang bisa diupayakan untuk hidup lebih sehat, yaitu menu makanan yang seimbang dan meminimalisir masuknya bahan-bahan kimia ke dalam tubuh.

Hewani vs Nabati

Mengonsumsi sayuran dan kacang-kacangan, memang lebih sehat daripada daging-dagingan, karena tingkat kolesterolnya rendah bahkan tidak ada sama sekali. Kolesterol hanya terdapat pada produk hewani, seperti daging, telur, atau susu.

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks dan rendah kandungan lemaknya adalah resep yang paling baik untuk mengontrol diabetes. Selain itu riset terhadap vegetaris menunjukkan bahwa tingkat kematian akibat kanker hanya 1/2 sampal 3/4 dibandingkan populasi umum.

Namun, bukan berarti Anda lantas tidak boleh makan daging, lho. Menurut Fransisca, yang penting Anda mengonsumsi makanan dengan seimbang, yang mengandung protein, karbohidrat, lemak, serat, vitamin dan mineral. Jika salah satu kurang, protein misalnya, maka Anda akan mudah sakit dan kulit menjadi cepat tua lantaran pergantian sel-sel baru berjalan lambat.

Boleh juga kok makan junk food. “Semua makanan baik, yang penting berapa banyak Anda memakannya. Makan hamburger, fried chicken, chips, dan sebagainya, tidak ada salahnya, asal diimbangi dengan makanan sayuran,” sarannya.

Organik atau Konvensional

Pestisida yang digunakan untuk membunuh hama dan serangga pada sayuran adalah bahan kimia yang terlarang masuk ke dalam tubuh. Begitu juga bahan kimia lainnya yang dipakai untuk menghancurkan alang-alang, yaitu gramisida. “Bahan ini bisa membunuh daun, maka bisa juga membunuh sel kita, karena daun itu mirip dengan tubuh kita,” jelas Fransisca.

Alasan itulah yang membuat orang tertarik mengonsumsi produk organik. Sayuran organik terbukti mengandung zat antioksidan 10-50 persen di atas sayuran non-organik. Dalam publikasi Coronary and Diabetic Care di Inggris, dan Association of Primary Care Groups and Trust disebutkan bahwa membiasakan diri mengonsumsi makanan organik bermanfaat mengurangi asupan bahan kimia beracun ke dalam tubuh, menyetop kemungkinan masuknya sel-sel produk pertanian hasil rekayasa genetika yang sampai kini belum diketahui bahaya dan akibatnya terhadap kesehatan, meningkatkan asupan nutrisi bermanfaat, juga menurunkan risiko kanker, penyakit jantung koroner, alergi dan hiperaktivitas pada anak-anak.

Dari segi penampilan sih sayuran organik sangat tidak menarik. Biasanya daunnya bolong-bolong karena dimakan hama, dan bentuknya lebih kecil dari sayuran non-organik. Tidak mulus.

Saat ini sayuran organik masih terbilang jauh lebih mahal, bisa 3-4 kali lipat harga sayuran mulus. Bila membeli sayuran organik membuat kantong merana, maka Anda bisa tetap mengonsumsi sayuran biasa dengan syarat, “Cuci bersih sayuran dan buah dengan sabun. Kemudian, rendam selama 5 sampai 10 detik ke dalam air panas, setelah itu baru dimasak,” saran Fransisca

Vegetarian, vegetarian, vegetarian, vegetarian, vegetarian……

Sekarang zamannya hidup vegetarian jika ingin sehat.

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Apa Itu Makanan Organik ?

August 10, 2007

Apa Itu Makanan Organik ?

Apa Itu Makanan Organik ? Amerika Serikat menetapkan standar, apa yang disebut organik adalah makanan yang “100% organik” dan “organik” (untuk yang setidaknya 95%) diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, radiasi untuk mematikan kuman, atau tanaman/ hewan yang mengalami modifikasi genetis (GMO, genetically modified organism).

Tanaman organik memakai pupuk kandang dan mengharamkan pestisida. Dipanen sesuai ketentuan, sebulan ya sebulan. Jika pakai pupuk kimia bisa panen lebih cepat, dan hasil produknya lebih besar. Petani mengolah sendiri pupuk kompos atau humus, dan untuk mengusir hama digunakan strategi penyilangan atau dikombinasi dengan daun bawang.

“Sayur organik lebih garing, lebih manis dan rasanya lebih alami,” ujar Stevan Lie. “Cabe dan kemangi lebih pedas, dan ketimun lebih kecil tapi lebih banyak airnya,” timpal Hariyanto.

Walau tubuh kita memiliki ginjal, liver, dan sebagainya yang berfungsi sebagai penyaring dan pembuang racun, “Tapi kalau perangkat tubuh itu terus-terusan dipaksa bekerja keras karena kita mengonsumsi makanan tak sehat, lama-lama jebol juga,” tambah Stevan.

Ia sarankan tindakan preventif, jangan setelah terkena penyakit baru berobat. Ongkosnya lebih mahal. Jika dua hari kita konsumsi makanan tak sehat, kita masih punya lima hari untuk menjaga baik-baik pola makan. Syukur jika akhirnya selama seminggu makan makanan sehat.

Lagi pula, karena tak merusak tanah dalam jangka panjang, beda dengan pupuk kimia, maka tanaman organik disebut tanaman masa depan. “Di Jepang dan Amerika Serikat konsumennya fantastis. Kalangan tertentu tak sudi lagi mengonsumsi makanan nonorganik, yang mereka sebut makanan konvensional,” imbuh Hariyanto bersemangat.

Hanya, karena kuantitas produksinya tak bisa banyak, maka harganya menjadi lebih mahal. Bukankah kesehatan kini menjadi barang mahal?

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Makanan Organik Solusi Supaya Sehat

Makanan Organik Solusi Supaya Sehat. MEITY Pondaaga (57), pensiunan Citibank yang kini menjadi konsultan perbankan, sekitar empat tahun lalu mulai mengonsumsi sayuran organik.

Keputusan mencoba sayuran organik dipicu oleh tersedianya sayuran tersebut di sebuah toko swalayan. Sebelumnya dia sudah banyak membaca mengenai makanan organik dari majalah-majalah kesehatan asing.

APA yang masuk ke tubuh, semuanya ada efeknya. Obat saja ada efek sampingnya, bagaimana dengan makanan yang kita makan? (Itu) pakai pupuk apa, bahan kimia apa, pasti ada efeknya ke tubuh,” kata Meity.

Apa yang kita makan katanya akan menentukan siapa kita. Ungkapan ini tentu saja tidak semata-mata menyangkut makanan apa yang kita makan, di mana kita makan, dan bagaimana kita memakan makanan itu. Pengaruh sangat jelas makanan adalah terhadap kesehatan serta kebugaran tubuh, dan sampai batas tertentu, kecantikan dan kemudaan kita.

Dengan alasan kesehatan itulah kini semakin banyak orang-setidaknya di Jakarta-yang sukarela mau merogoh kantong mereka untuk membeli makanan organik. Makanan itu juga semakin banyak ditawarkan di berbagai toko swalayan, bahkan ada restoran-restoran yang menyediakan menu khusus sayuran dan daging ayam yang diproduksi secara organik.

Meity menyebutkan, alasan mengonsumsi sayur-mayur organik sejak empat tahun lalu adalah demi kesehatan. Ayah Meity menderita sakit jantung, sementara ibunya punya penyakit darah tinggi. Meity khawatir terkena penyakit yang bisa diturunkan itu dan sangat dipengaruhi gaya hidup, yaitu antara lain makanan yang dikonsumsi, karena kedua orangtuanya penggemar olahraga.

Alasan kesehatan pula yang membuat Ny Rosalinda (39), warga di Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara, mulai mengonsumsi makanan organik sejak setengah tahun lalu setelah membaca artikel mengenai makanan ini di sebuah majalah kesehatan.

“Sayuran dikasih pestisida dan pupuk kimia, ayam dikasih antibiotik dan hormon, ada juga sapi edan (gila-Red), makanan kemasan pakai pewarna tekstil. Benar-benar mengerikan,” kata Rosalinda yang menularkan kebiasaan barunya ini kepada dua anak dan suaminya.

Kesadaran untuk hidup sehat dengan mengonsumsi makanan organik ini bukan cuma dilakukan individu-individu. Ny Traute Christa Ongkowijaya (50), warga Kelapa Gading, Jakarta Utara, menjadi semacam ketua kelompok dari para konsumen makanan organik yang anggotanya sekitar 15 orang. Setiap hari Jumat, sayuran organik dari perkebunan milik Pater Agatho, pelopor sayuran organik di Indonesia, dikirim ke rumahnya.

“Setiap Jumat anggota datang ke rumah saya untuk mengambil sayuran itu. Jenis macam-macam, apa saja yang sedang alam berikan. Yang penting aman,” kata Ny Ongkowijaya.

Ny Ongkowijaya mengatakan, alasan kesehatanlah yang membuat dia mengonsumsi sayuran organik. Jakarta, kata dia, sudah sangat terpolusi. “Jakarta kan termasuk tiga kota yang paling terpolusi di dunia. Jadi, sedapat mungkin dari makanan kita tidak semakin mencemari tubuh,” kata dia.

KESADARAN untuk mengonsumsi sayuran organik ini tidak terbatas pada mereka yang sudah berusia relatif lanjut. Ibu-ibu muda dari kalangan selebriti, seperti penyanyi Lusy Rahmawati (27) dan Melly Manuhutu (29), serta pembawa acara televisi Sophie Navita (29) juga mulai rajin mengonsumsi sayuran yang mereka yakini sehat itu.

Melly mulai berkenalan dengan sayuran organik karena kebetulan dia tinggal di kawasan Ciburial, Cisarua, Jawa Barat. Di tempat tinggalnya itu dia dengan mudah mendapatkan sayuran organik yang ditanam di kebun milik Pater Agatho.

Penyanyi yang pernah hamil tetapi kemudian keguguran itu memakan beragam sayuran organik, seperti wortel, bayam, selada, lobak, labu siam, tomat, selain ubi, dan pisang. Bahkan ayam dan telur pun dia pilih yang diproduksi secara organik.

Lain lagi alasan Lusy Rahmawati yang mulai mengonsumsi sayuran organik secara teratur setelah kelahiran anak pertamanya, Keitro Jose Purnomo, yang baru berumur satu tahun.

“Makanan organik terutama untuk anakku. Aku sendiri tidak terlalu strict. Untuk anak, aku usahain sedini mungkin tidak mengonsumsi makanan dengan campuran bahan pengawet,” kata istri dari sutradara film Jose Purnomo.

Awalnya Lusy masih merasakan harga sayuran tersebut mahal sehingga dia terpaksa tidak sering membeli. Tetapi, begitu hamil dan melahirkan, Lusy mulai mengonsumsi sayuran organik yang dia kenal melalui tawaran di sebuah toko swalayan di dekat rumahnya di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Alasan penyanyi ini karena sekarang banyak penyakit yang aneh-aneh. “Aku pikir, untuk anakku keluar biaya ekstra tidak apa-apa,” papar Lusy.

Pengalaman Sophie Navita dengan sayuran organik juga berhubungan dengan kehamilannya dan ketika dia menyusui sendiri anaknya.

“Awalnya memang buat anak, tetapi akhirnya juga buat keluarga. Jadi, sekalian belanja,” kata Navita yang istri dari Pongky, penyanyi kelompok musik Jikustik. “Entah sugesti atau apa, tetapi yang jelas saya merasa lebih segar dan badan lebih ringan setelah banyak mengonsumsi makanan organik,” ujarnya.

Begitu juga pengusaha Setiawan Djody (55) mengaku mengonsumsi makanan organik. Dia bahkan mendukung pertanian organik melalui Yayasan Kantata yang dia dirikan 15 tahun lalu. “Saya tertarik dengan pertanian organik setelah bertemu dengan Romo Agatho. Saya kebetulan tertarik pada gaya hidup kembali ke alam,” paparnya.

APA pun alasan yang disampaikan para konsumen makanan organik, entah dengan alasan kesehatan atau kembali ke alam, tetapi makanan organik meskipun perlahan semakin populer walaupun harganya berlipat sampai tiga kali dibandingkan dengan makanan non-organik.

Untuk negara dengan peraturan ketat seperti Amerika Serikat (AS), mereka telah memberlakukan sebuah standar tentang apa yang disebut organik, yaitu makanan yang “100 persen organik” dan “organik” (untuk yang setidaknya 95 persen) diproduksi tanpa hormon, antibiotik, herbisida, insektisida, pupuk kimia, tanaman/hewan yang mengalami modifikasi genetis, atau radiasi untuk mematikan kuman (Newsweek, 30/9/2002).

Kesadaran untuk mengonsumsi makanan organik pun tidak selalu sama dari masa ke masa. Ketika budaya tandingan muncul di Barat pada tahun 1970-an-yang kemudian imbasnya juga terasa di Indonesia-konsumen mengambil makan organik sebagai sebuah identitas lebih karena alasan filosofis. Maksudnya, makanan menjadi cara mereka untuk menyuarakan kepedulian mereka terhadap kondisi lingkungan, pilihan politik, bahkan spiritualitas mereka.

Akan tetapi, keadaan ini kini berbalik lebih menjadi alasan praktis, yaitu kesehatan tadi, meskipun di sini jumlah konsumennya masih dari kalangan terbatas mengingat harganya yang jauh lebih mahal tadi.

Alasan kesehatan ini pun masih menjadi pro dan kontra di negara maju seperti AS. Betul pestisida adalah racun yang dimaksudkan untuk membunuh hama penyakit yang mengganggu tanaman, dan antibiotik digunakan untuk menangkal serangan penyakit pada hewan ternak. Tetapi, mereka yang membela penggunaan teknologi-pupuk buatan, pestisida, pangan hasil modifikasi genetika-mengatakan bahwa bahaya utama datang dari bakteri seperti E coli yang terdapat pada kotoran sapi yang menjadi pupuk tanaman organik.

Namun, yang tidak dapat dimungkiri adalah semakin intensifnya penggunaan pestisida dan antibiotik pada pertanian konvensional-pertanian dengan asupan teknologi modern menjadi konvensional dibandingkan dengan pertanian organik yang sebelum munculnya Revolusi Hijau tahun 1960-an dengan teknologi modernnya adalah pertanian konvensional itu sendiri-karena munculnya masalah antara lain hama penyakit yang kebal terhadap pestisida yang ada sampai jenuhnya tanah karena penggunaan pupuk kimia terus-menerus sepanjang tahun.

Untuk lingkungan, pertanian organik dianggap lebih bersahabat terhadap lingkungan karena dia mengambil apa yang berasal dari alam dan dikembalikan ke alam seraya menjaga keragaman hayati karena tidak perlu membunuh makhluk hidup-apakah dia kutu atau serangga pemakan sayuran-secara berlebihan karena penggunaan musuh alami atau pestisida dari bahan tanaman sendiri.

Dan apabila konsumen sekarang memilih makanan organik karena alasan kesehatan, itu akan menjadi sebuah cara untuk ikut memperbaiki lingkungan, sepanjang memang diproduksi dengan cara yang benar-benar organik.

Buat Ny Meity, keyakinan bahwa makanan organik yang dia konsumsi membuatnya lebih sehat adalah hal yang terpenting. “Saya sekarang juga tidak pernah sakit yang berat- berat, paling-paling hanya flu. Tetapi, secara umum saya suka makanan organik karena merasa safe saja,” kata Meity.

Soal harga yang bisa 3-4 kali lebih mahal dibandingkan dengan harga sayuran konvensional, Meity melihat itu sebagai harga yang wajar dibayar. Kata Meity, “Daripada beli obat? Ke dokter (kalau sakit), sudah badan kita tersiksa, keluar uang banyak, badan kita kemasukan masih bahan-bahan kimia juga.”

Makanan organik bagus untuk kesehatan. Kita harus mengubah pola hidup dengan mengkonsumsi makanan organik

Sukses Menjadi Konsultan Kesehatan Bersama Nyoman Maulana Seorang Leader Melilea Konsultan Call: 021-98712280
Bisnis Organik Konsultasi Kesehatan Tips Hidup Sehat Melilea

http://melilea-organik.com

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.